Bank BNI

Berkat Program PEN, Debitur Mikro Bank BRI Kembali Menggeliat

Oleh Indra Purnama pada 31 Jul 2020, 10:34 WIB

PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk terus berkomitmen untuk memberikan layanan perbankan prima bagi nasabah di seluruh Tanah Air.

Cobisnis.com - Ujang Mulyana, seorang pelaku usaha mikro, kini bisa bernafas lega. Pasalnya, usaha kecil-kecilan miliknya sudah mulai bergerak lagi setelah mendapat sentuhan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) melalui Bank BRI.

Ujang yang memiliki usaha warung sembako, pecel ayam, dan kantin sekolah mengaku, sejak wabah virus Covid-19 usahanya menukik tajam. Termasuk kantin sekolah, karena sekolahnya tutup sudah lima bulan.

"Saya sampai tidak bisa membayar karyawan sebanyak dua orang", tukas Ujang, pada acara update PEN KUMKM di kantor Kementerian Koperasi dan UKM, Jakarta, Kamis (29/7).

Bahkan, aku Ujang, modal usahanya terpakai untuk menutup kebutuhan sehari-sehari keluarganya.

Di tengah kebingungan itu, Ujang pun mendatangi Bank BRI dengan tujuan mendapat solusi atas kelangsungan usahanya yang nyaris bangkrut. "Alhamdulillah, di Bank BRI saya diterima baik dan diarahkan untuk mendapat produk bantuan tambahan modal melalui Kumpedes Bangkit", kata Ujang.

Dengan tambahan modal sebesar Rp25 juta, usaha Ujang pun perlahan mulai bergerak lagi. "Yang belum jalan lagi adalah kantin sekolah, karena sekolah masih ditutup", tukas Ujang.

Hal serupa dialami Slamet, perajin tempe warga Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. "Usaha tempe saya drop drastis karena para pelanggan saya banyak yang pulang kampung karena Covid-19. Mayoritas pelanggan saya pedagang warung makan", ucap Slamet yang sudah memproduksi tempe selama 10 tahun.

Saat usaha meningkat, Slamet pernah mendapat KUR Mikro dari Bank BRI sebesar Rp25 juta. "Namun, sejak Maret 2020 usaha saya mulai lesu", ujar Slamet.

Ketika iklim usaha pada Juli 2020 mulai bergerak, Slamet pun mendapat tambahan modal dari Bank BRI sebesar Rp35 juta, bagian dari program stimulus dari pemerintah. "Saya sangat terbantu, karena tambahan modal tersebut saya pakai untuk membeli bahan baku kedelai", kata Slamet.

Slamet pun berharap kondisi seperti ini bisa segera pulih, agar usahanya bisa kembali berjalan normal. "Saya biasa memproduksi tempe sebanyak satu kwintal perhari. Mudah-mudahan, usaha saya bisa kembali normal", tandas Slamet.