JAKARTA, Cobisnis.com - Industri perbankan di sejumlah negara menghadapi gangguan sistem dan ancaman serangan siber. Dampaknya mulai dari layanan ATM dan internet banking yang tidak dapat digunakan hingga dugaan pencurian dana dalam jumlah besar.
Salah satu gangguan terjadi di Jepang pada 6 November 2026. Sebanyak 128 bank kredit atau shinkin bank di wilayah barat Jepang dilaporkan mengalami gangguan layanan secara bersamaan.Akibatnya, nasabah tidak dapat melakukan penarikan dan penyetoran uang tunai maupun transaksi perbankan secara daring. Layanan transfer melalui ATM dan transaksi di kantor cabang juga ikut dihentikan.
Gangguan tersebut berdampak pada jaringan kantor cabang yang tersebar di 3.430 lokasi. Layanan internet banking turut terdampak sehingga aktivitas transaksi nasabah terganggu.
Shinkin Central Bank, lembaga yang mengoperasikan sistem inti bank-bank shinkin Jepang, menyebut gangguan disebabkan kegagalan komunikasi pada peralatan di West Japan Centre. Fasilitas tersebut mengawasi jaringan perbankan di wilayah barat Jepang.
Pihak bank menyatakan belum menemukan indikasi akses tanpa izin. Mereka juga belum menduga gangguan tersebut berkaitan dengan serangan siber.
Sementara itu, Malaysia menghadapi persoalan berbeda setelah situs web Bank Rakyat dilaporkan mengalami peretasan. Menteri Komunikasi sekaligus juru bicara pemerintah Madani, Datuk Seri Fahmi Fadzil, mengatakan upaya serangan yang terdeteksi sejauh ini tidak menyebabkan pencurian data maupun gangguan operasional internet banking.
"Kami telah mengidentifikasi upaya serangan siber oleh aktor non-negara, termasuk peretasan. Namun, sejauh ini tidak ada pencurian data ataupun gangguan terhadap sistem perbankan daring," ujar Fahmi.
Menurut Fahmi, serangan terhadap situs Bank Rakyat hanya mengubah tampilan halaman dan menyasar situs yang dikelola pihak ketiga. Bank Rakyat kemudian memblokir akses ke server terdampak dan mengalihkan pengguna ke situs i-Rakyat yang sepenuhnya dimiliki bank tersebut.
Di Prancis, sebuah bank regional, Credit Mutuel Arkea, dilaporkan kehilangan dana lebih dari 100 juta euro akibat serangan siber. Meski demikian, sebagian dana disebut telah berhasil dipulihkan.
Serangan tersebut terungkap pada Rabu setelah peretas diduga mengakses sistem bank dan memindahkan dana ke rekening lain. Pejabat bank menyatakan dana milik nasabah tidak tersentuh dalam insiden tersebut.
Daniel Baal, Presiden Confederation Nationale du Credit Mutuel (CNCM), mengatakan unit khusus pemberantasan kejahatan siber Prancis sedang menyelidiki kejadian tersebut. Ia menyebut serangan siber menjadi ancaman yang dihadapi sektor keuangan setiap hari.
"Kami menghadapi serangan siber setiap hari. Untungnya, sebagian besar, bahkan hampir seluruhnya, berhasil digagalkan," ujar Baal.
Ancaman serangan digital juga meluas ke sektor lain di Eropa. Sejumlah supermarket di sedikitnya sembilan negara dilaporkan menjadi sasaran serangan siber pada pekan yang sama, sementara Uni Eropa memperingatkan adanya upaya untuk mengganggu pasokan pangan.
Rangkaian insiden tersebut menunjukkan beragam risiko yang dihadapi infrastruktur digital, termasuk sektor perbankan. Gangguan teknis, peretasan situs, hingga pencurian dana memiliki dampak berbeda, tetapi sama-sama dapat mengganggu kepercayaan dan aktivitas masyarakat.