JAKARTA, Cobisnis.com - Membatasi asupan natrium bisa menjadi salah satu cara untuk menjaga kesehatan. Padahal, natrium adalah mineral penting yang tidak dapat diproduksi sendiri oleh tubuh.
Tubuh memiliki mekanisme yang canggih untuk mengatur kadar natrium dan menghilangkan kelebihannya melalui ginjal. Terutama dalam cuaca panas atau saat berkeringat banyak, berolahraga, atau kehilangan cairan, hidrasi melibatkan lebih dari sekadar minum air.
Dr. Prabhat Ranjan Sinha, Konsultan Senior Penyakit Dalam di Aakash Healthcare menjelaskan bahwa garam, sumber utama natrium, bukan hanya sekadar bumbu, garam memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan cairan, mendukung fungsi saraf, dan memungkinkan aktivitas otot.
Menurutnya, natrium sangat penting untuk menjaga volume darah, mengatur tekanan darah, dan memungkinkan penghantaran saraf serta kontraksi otot.
Dr. Sinha mengungkapkan, asupan natrium yang rendah secara kronis dapat menyebabkan keinginan mendadak untuk mengonsumsi gula, penurunan tekanan darah, dan gangguan regulasi cairan tubuh oleh ginjal.
"Seiring waktu, hal ini memberi tekanan pada sistem hormonal seperti jalur renin-angiotensin-aldosteron, yang berfungsi untuk menghemat natrium dalam tubuh," katanya dilansir dari Indianexpress, Kamis, (17/9/2026).
Lebih lanjut, Dr. Sinha mengatakan pengurangan garam secara tiba-tiba dan drastis dapat memicu gejala masalah kesehatan yang serius.
"Natrium sangat penting untuk mentransmisikan impuls saraf dan mendukung kontraksi otot. Dan penurunan kadar natrium yang cepat dapat menyebabkan tekanan darah turun, mengurangi aliran darah ke otak dan menyebabkan pusing, kepala terasa ringan, dan kelelahan," ujarnya.
Sementara, Dr. Rakesh Gupta, Konsultan Senior Penyakit Dalam di Rumah Sakit Indraprastha Apollo, mengatakan bahwa asupan natrium ideal untuk orang dewasa berkisar antara 1.500–2.300 mg per hari, yang sebagian besar berasal dari garam.
Namun, mereka akhirnya melebihi batas ini karena mengonsumsi makanan olahan, dan itu dapat menyebabkan masalah kesehatan serius seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan stroke.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan maksimal 2.000 mg per hari, sedangkan American Heart Association menyarankan 1.500 mg untuk meningkatkan kesehatan jantung secara optimal.
Dalam kasus yang lebih parah, Dr. Gupta mengatakan bahwa kekurangan natrium yang berkepanjangan dapat menyebabkan hiponatremia, suatu kondisi di mana kadar natrium dalam darah turun hingga sangat rendah.
"Hal ini dapat memengaruhi fungsi otak dan dapat menyebabkan kebingungan, kelemahan, penurunan stamina, dan penurunan kinerja fisik," jelas dia.
Maka dari itu, Dr. Sinha merekomendasikan untuk fokus pada moderasi. Ia menyarankan untuk mengurangi natrium dari makanan olahan dan kemasan, salah satu penyumbang terbesar asupan natrium berlebih, sambil tetap mengonsumsi natrium alami dari makanan rumahan.
"Kebutuhan natrium bervariasi tergantung pada iklim, tingkat aktivitas fisik, dan kondisi kesehatan individu. Memperhatikan tanda-tanda peringatan seperti kelelahan yang terus-menerus, pusing, atau kram otot dapat membantu dalam melakukan penyesuaian."
"Bagi penderita tekanan darah tinggi atau kondisi terkait ginjal, pemantauan rutin dan bimbingan medis sangat penting," tukas Dr. Sinha.