5 Cara Didik Anak Era 90-an yang Sebaiknya Tak Diulang

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 16 Sep 2026, 12:22 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Era 1990-an kerap dikenang sebagai masa kecil yang bebas, sederhana, dan penuh nostalgia. Saat itu, anak-anak belum mengenal ponsel pintar dan media sosial seperti sekarang.

Namun, tidak semua kebiasaan dari era tersebut cocok diterapkan pada Gen Alpha. Sejumlah pola pikir dan kebiasaan lama justru perlu ditinggalkan agar anak tumbuh dengan rasa aman dan kemampuan mengelola emosi yang lebih baik.

Pertama, kebiasaan menganggap anak bebas bermain di luar hingga pulang sebelum Magrib sebagai bentuk kemandirian. Kebebasan tetap penting, tetapi perlu disertai rasa aman, batasan, dan pendampingan yang sesuai.

Kedua, komentar mengenai tubuh dan penampilan yang dulu sering dianggap sebagai hal biasa. Komentar tentang berat badan atau bentuk tubuh dapat memengaruhi kepercayaan diri anak, terlebih mereka kini juga menghadapi tekanan perbandingan dari media sosial.

Ketiga, anggapan bahwa perundungan dapat membuat anak semakin kuat. Nasihat seperti meminta anak untuk menahan atau melawan perundungan justru dapat mengabaikan dampak psikologis yang mungkin berlangsung panjang.

Di era digital, perundungan juga tidak hanya terjadi secara langsung. Ruang maya dapat membuat pengalaman tersebut semakin intens bagi anak yang mengalaminya.

Keempat, kebiasaan meminta anak menyimpan emosi dan selalu terlihat kuat. Anak perlu memahami bahwa menangis, bercerita, dan meminta bantuan bukan tanda kelemahan.

Pembicaraan mengenai perasaan juga membantu anak mengenali dan mengungkapkan emosinya sejak dini. Keterampilan tersebut penting agar anak memiliki cara yang lebih sehat dalam mengelola perasaan.

Kelima, mengabaikan parental guide pada film, lagu, dan budaya pop. Berbeda dengan era 90-an, orang tua saat ini memiliki akses lebih mudah untuk memeriksa konten serta menggunakan fitur parental control.

Tidak semua hal dari masa lalu harus diteruskan kepada generasi berikutnya. Orang tua dapat mempertahankan sisi positif dari masa kecil era 90-an sambil meninggalkan kebiasaan yang berpotensi memberi dampak kurang baik bagi anak.