Adaptasi “Wuthering Heights” Yang Dangkal Namun Berkilau Di Bawah Matahari

Oleh Zahra Zahwa pada 13 Feb 2026, 17:51 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Film terbaru karya sutradara Inggris Emerald Fennell berjudul “Wuthering Heights” memicu perdebatan bahkan sejak trailer pertamanya dirilis. Alih-alih menghadirkan kedalaman emosional khas novel gotik karya Emily Brontë, adaptasi ini justru tampil sebagai sajian visual yang memikat permukaan indah, sensual, namun dinilai kurang menggali makna mendalam.

Film ketiga Fennell yang dijadwalkan tayang Jumat ini hanya mengadaptasi separuh pertama novel klasik tersebut. Seperti sejumlah sutradara sebelumnya, ia memotong cerita sebelum romansa berubah menjadi kisah trauma lintas generasi. Versinya disebut memiliki alur dan karakter lebih sedikit, namun menghadirkan lebih banyak adegan sensual yang eksplisit.

Sejak awal, Fennell tampak menyadari potensi kritik terhadap karyanya. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak membuat “Wuthering Heights” dalam arti harfiah, melainkan sebuah versi interpretatif. Bahkan penggunaan tanda kutip pada judul menjadi simbol bahwa film ini lebih merujuk pada sejarah sinema ketimbang kesetiaan pada teks asli.

Secara visual, film ini terasa lebih dekat dengan adaptasi Hollywood klasik garapan William Wyler pada 1939 dibandingkan novel sumbernya. Dalam versi tersebut, aktris Merle Oberon tampil dengan kostum mewah dan pendekatan romantis yang kuat. Fennell bersama desainer kostum Jacqueline Durran menciptakan puluhan kostum glamor untuk karakter Cathy yang diperankan Margot Robbie bahkan totalnya mencapai 50 kostum hanya untuk satu karakter.

Referensi visual film ini merentang dari karakter Scarlett O’Hara dalam Gone with the Wind hingga film fantasi Prancis Donkey Skin. Fennell secara terbuka menyatakan bahwa akurasi periode sejarah bukan prioritasnya. Baginya, kostum dan gaya visual lebih berkaitan dengan “kebenaran emosional” daripada kesetiaan era.

Kritikus film telah membandingkan pendekatan Fennell dengan ulasan klasik terhadap versi Wyler. Pada 1939, kritikus The New York Times memuji film tersebut karena berhasil mempertajam esensi kisah cinta brutal Heathcliff dan Cathy, meski tetap mengambil kebebasan kreatif dari novel.

Namun dalam versi 2026 ini, Fennell tampaknya tidak berusaha menghidupkan Yorkshire abad ke-18, melainkan menghidupkan kembali estetika sinema pertengahan abad ke-20. Dengan demikian, film ini terasa lebih ditujukan bagi pencinta sejarah perfilman daripada penggemar setia karya sastra Brontë.

Hasil akhirnya mungkin terasa dangkal seperti genangan air di bawah matahari tidak dalam, tetapi memantulkan cahaya dengan memikat.