Adik Kim Jong Un Tegaskan Korut Tak Akan Lucuti Senjata Nuklir

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 17 Sep 2026, 15:38 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Kim Yo Jong, adik pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, kembali menegaskan bahwa negaranya tidak akan melepaskan senjata nuklir. Ia menyebut status Korea Utara sebagai negara pemilik senjata nuklir bersifat mutlak dan tidak dapat diubah.

Pernyataan tersebut disampaikan saat Badan Energi Atom Internasional atau IAEA menggelar konferensi di Wina, Austria. Kim Yo Jong menolak pembahasan mengenai upaya denuklirisasi Korea Utara.

"Posisi DPRK sebagai negara pemilik senjata nuklir adalah mutlak dan tidak dapat diubah oleh apa pun," tegas Kim Yo Jong dalam pernyataan yang disampaikan melalui media pemerintah Korea Utara.

Kim Yo Jong juga menyindir pihak yang masih menganggap denuklirisasi Korea Utara mungkin terjadi. Menurutnya, mereka hanya akan mendengarkan perkataan orang bodoh.

Ia menegaskan status nuklir Korea Utara telah ditetapkan secara permanen, baik secara fisik maupun melalui hukum yang berlaku di negaranya. Posisi tersebut, menurut Kim Yo Jong, tidak akan berubah meski mendapat tekanan dari pihak lain.

Korea Utara sebelumnya telah menetapkan status sebagai negara pemilik senjata nuklir melalui aturan hukum. Pyongyang juga berulang kali menyatakan bahwa persenjataan nuklir diperlukan sebagai bagian dari kemampuan pencegahannya.

Pada Agustus 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan Korea Utara memiliki sekitar 57 senjata nuklir. Sementara itu, Korea Selatan memperkirakan Pyongyang memiliki sekitar 80 hingga 120 hulu ledak nuklir.

Kim Yo Jong mengatakan persenjataan nuklir Korea Utara berkontribusi dalam mencegah tindakan yang disebutnya sebagai ancaman dari pihak lain. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah kembali munculnya pembahasan mengenai kemungkinan dialog antara Washington dan Pyongyang.

Kementerian Unifikasi Korea Selatan ikut mencermati pernyataan tersebut. Seorang pejabat Seoul mengatakan pernyataan Kim Yo Jong perlu diperhatikan karena muncul setelah Trump menyatakan kesediaannya untuk kembali berdialog dengan Korea Utara.

Trump sebelumnya mengatakan dirinya berencana bertemu Kim Jong Un pada akhir 2026. Kedua pemimpin telah tiga kali bertemu pada masa jabatan pertama Trump, namun proses diplomasi terhenti setelah pertemuan di Hanoi, Vietnam, pada 2019 tidak menghasilkan kesepakatan mengenai sanksi dan denuklirisasi.

Sejak pertemuan tersebut, Korea Utara terus mempertahankan dan mengembangkan program nuklirnya. Pernyataan terbaru Kim Yo Jong kembali menunjukkan bahwa denuklirisasi masih menjadi titik perbedaan utama dalam hubungan Pyongyang dengan Amerika Serikat dan negara lain.