JAKARTA, Cobisnis.com – PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) merevisi rencana buyback saham dengan menaikkan anggaran menjadi maksimal Rp 5 triliun. Langkah ini diambil di tengah dinamika pasar dan penyesuaian kinerja keuangan perseroan.
Sebelumnya, ADRO hanya menyiapkan dana Rp 4 triliun. Revisi ini diumumkan melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia pada 2 April 2026.
Perubahan tersebut juga mencakup jadwal pelaksanaan dan proyeksi keuangan. Perseroan menyesuaikan strategi seiring adanya tekanan pada pendapatan.
ADRO akan meminta persetujuan pemegang saham dalam RUPST pada 17 April 2026. Jika disetujui, buyback akan dimulai sehari setelahnya dan berlangsung selama 12 bulan.
Pelaksanaan buyback dilakukan secara bertahap melalui Bursa Efek Indonesia. Langkah ini mengikuti regulasi OJK yang mengatur pembelian kembali saham oleh emiten.
Perseroan memastikan nilai buyback tidak akan melebihi 10 persen dari modal ditempatkan. Selain itu, posisi keuangan tetap dijaga agar tidak mengganggu operasional.
Dengan asumsi dana Rp 5 triliun, total aset diproyeksikan turun dari 6,82 miliar dolar AS menjadi 6,52 miliar dolar AS. Penurunan ini merupakan konsekuensi langsung dari aksi buyback.
Ekuitas juga diperkirakan terkoreksi dari 5,00 miliar dolar AS menjadi 4,71 miliar dolar AS. Namun laba bersih tetap stabil di angka 489,85 juta dolar AS.
Menariknya, laba per saham (EPS) justru naik dari 0,01526 dolar AS menjadi 0,01668 dolar AS. Kenaikan ini terjadi karena jumlah saham beredar berkurang.
Manajemen menegaskan langkah buyback tidak akan mengganggu kegiatan usaha. Perseroan tetap optimistis terhadap prospek pertumbuhan jangka panjang.
ADRO berharap aksi ini bisa meningkatkan kepercayaan investor. Selain itu, harga saham diharapkan lebih mencerminkan fundamental perusahaan.