Alasan Tahun Baru Imlek Tidak Pernah Sama Tanggalnya Setiap Tahun

Oleh Desti Dwi Natasya pada 09 Feb 2026, 10:45 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Perayaan Tahun Baru Imlek kerap membuat banyak orang bertanya-tanya karena tanggalnya selalu berubah setiap tahun jika dilihat dari kalender Masehi. Tidak seperti tahun baru pada umumnya, Imlek tidak memiliki tanggal tetap karena penentuannya mengikuti sistem kalender lunisolar Tiongkok.

Kalender lunisolar merupakan sistem penanggalan yang menggabungkan peredaran bulan dan matahari. Inilah alasan utama mengapa Imlek biasanya jatuh di rentang waktu antara 21 Januari hingga 20 Februari, dan jarang sekali berada di tanggal yang sama setiap tahunnya.

Kalender Lunisolar Jadi Acuan Utama

Mengacu pada sistem kalender Tiongkok, satu bulan lunar berlangsung sekitar 29 hingga 30 hari. Jika dihitung selama 12 bulan, totalnya hanya sekitar 354 hari, atau lebih pendek sekitar 11 hari dibandingkan kalender matahari yang digunakan secara internasional.

Agar tetap selaras dengan perubahan musim, kalender Imlek menambahkan satu bulan kabisat setiap dua sampai tiga tahun. Penyesuaian inilah yang membuat tanggal Tahun Baru Imlek terus bergeser dari tahun ke tahun jika dibandingkan dengan kalender Gregorian.

Patokan Astronomi Penentuan Imlek

Secara astronomi, Tahun Baru Imlek selalu ditetapkan pada bulan baru kedua setelah titik balik matahari musim dingin. Dengan perhitungan ini, Imlek memiliki batas waktu paling awal pada 21 Januari dan paling akhir pada 20 Februari.

Sebagai contoh, pada 2025 Imlek jatuh pada 29 Januari, sementara pada 2026 perayaannya bergeser ke 17 Februari. Pergeseran ini merupakan hasil perhitungan yang konsisten dan telah digunakan selama ribuan tahun.

Akar Sejarah dan Budaya

Tahun Baru Imlek telah dirayakan lebih dari tiga milenium, sejak masa Dinasti Shang. Pada awalnya, perayaan ini berkaitan erat dengan siklus pertanian serta ritual penghormatan kepada leluhur menjelang pergantian tahun lunar.

Dalam perkembangannya, Imlek juga diperkaya oleh cerita rakyat, salah satunya legenda Nian. Makhluk mitologis ini dipercaya muncul di akhir tahun dan mengganggu kehidupan masyarakat. Untuk mengusirnya, orang-orang menggunakan suara keras, cahaya terang, serta warna merah—unsur yang hingga kini identik dengan perayaan Imlek.

Pengaruh Dinasti dan Ajaran Kepercayaan

Pada era Dinasti Han, hari pertama bulan lunar resmi ditetapkan sebagai awal tahun. Tradisi ini kemudian semakin kuat dengan pengaruh Konfusianisme, Taoisme, dan Buddhisme, yang menekankan nilai kebersamaan keluarga, penghormatan leluhur, serta pembaruan diri.

Karena itu, Imlek bukan sekadar pergantian tahun, melainkan momen refleksi dan harapan baru untuk kehidupan yang lebih baik.

Ragam Tradisi di Berbagai Daerah

Walau memiliki dasar yang sama, tradisi Imlek berbeda di tiap wilayah. Di Tiongkok bagian utara, pangsit menjadi simbol kemakmuran. Sementara di wilayah selatan, kue beras ketan atau niangao melambangkan peningkatan rezeki dan keberuntungan.

Di negara lain, termasuk Indonesia, perayaan Imlek berkembang secara lebih inklusif. Tradisi seperti pembagian angpao, pertunjukan barongsai, serta jamuan keluarga tetap lestari dan berbaur dengan budaya lokal.

Dengan sistem kalender yang unik serta sejarah panjang yang sarat makna, wajar jika Hari Raya Imlek selalu jatuh pada tanggal yang berbeda setiap tahunnya, namun tetap konsisten sebagai simbol awal baru dan harapan.