Ancaman Berbalik Arah, Trump Pilih Gencatan Senjata 2 Minggu dengan Iran

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 08 Apr 2026, 11:26 WIB

JAKARTA, Cobisnis.comDonald Trump menyatakan telah menyetujui gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran, hanya beberapa jam sebelum tenggat ultimatum yang sebelumnya ia berikan kepada Teheran.

Kesepakatan ini juga melibatkan Israel yang disebut telah menyetujui penghentian sementara konflik. Langkah ini menjadi sinyal meredanya ketegangan setelah ancaman eskalasi militer yang cukup serius.

Sebelumnya, Trump memperingatkan Iran dengan pernyataan keras terkait potensi serangan besar jika tuntutan tidak dipenuhi. Namun, arah kebijakan berubah dengan munculnya opsi diplomasi.

Gencatan senjata ini bergantung pada kesediaan Iran untuk menghentikan blokade di Selat Hormuz. Jalur ini diketahui menangani sekitar seperlima distribusi minyak global, sehingga memiliki dampak besar bagi ekonomi dunia.

Pemerintah AS menyebut kesepakatan ini sebagai langkah strategis karena tujuan militer dinilai telah tercapai. Selain itu, peluang menuju perjanjian damai jangka panjang disebut semakin terbuka.

Trump juga mengungkap bahwa Iran telah mengajukan proposal 10 poin yang dianggap cukup layak untuk dijadikan dasar negosiasi lanjutan. Hal ini menjadi indikasi adanya ruang kompromi di kedua pihak.

Peran Pakistan sebagai mediator turut menjadi kunci dalam tercapainya kesepakatan ini. Perdana Menteri Shehbaz Sharif sebelumnya mengajukan permintaan gencatan senjata untuk memberi ruang diplomasi.

Pakistan juga mendorong Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz sebagai bentuk itikad baik. Langkah ini diharapkan dapat menurunkan ketegangan sekaligus menjaga stabilitas pasokan energi global.

Di sisi lain, pejabat Iran menyatakan pihaknya mempertimbangkan secara positif usulan tersebut. Respons ini menunjukkan adanya peluang kesepakatan yang lebih luas dalam waktu dekat.

Secara geopolitik, gencatan senjata ini memberi dampak langsung terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah. Selain itu, pasar energi global juga berpotensi lebih stabil jika jalur distribusi kembali normal.

Langkah ini menandai perubahan pendekatan dari tekanan militer ke jalur diplomasi. Namun, keberlanjutan kesepakatan tetap bergantung pada komitmen semua pihak selama periode dua minggu tersebut.