Apakah Fashion Kini Hanya untuk Para Miliarder?

Oleh Zahra Zahwa pada 05 Mar 2026, 07:15 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Pekan mode global kembali memunculkan pertanyaan besar: apakah dunia fashion kini hanya menjadi arena bermain para miliarder? Sorotan menguat saat Priscilla Chan hadir bersama suaminya, pendiri Meta Mark Zuckerberg, di peragaan busana Prada mengenakan mantel shearling seharga €11.500. Momen itu memicu diskusi luas tentang siapa sebenarnya yang menjadi target industri fashion mewah saat ini.

Di satu sisi, fashion semakin mudah diakses secara visual. Peragaan busana disiarkan langsung dan dibahas ramai di media sosial seperti TikTok dan Instagram, menjadikan industri ini terasa sedekat budaya pop. Namun di sisi lain, harga produk justru melonjak tajam. Tas klasik dari Chanel yang pada 2019 dijual sekitar US$5.800, kini bisa menembus US$10.800. Koleksi terbaru Versace bahkan menghadirkan gaun dengan harga puluhan ribu dolar, jauh dari jangkauan mayoritas pengamatnya di dunia digital.

Ketimpangan ini semakin terasa ketika para taipan teknologi rutin duduk di barisan depan peragaan busana. Pendiri Amazon Jeff Bezos dan istrinya, Lauren Sanchez, kerap tampil dalam agenda couture eksklusif. Lonjakan kekayaan para miliarder dalam beberapa tahun terakhir semakin mempertegas jurang antara konsumen ultra-kaya dan publik umum yang hanya bisa menyaksikan dari layar ponsel.

Desainer legendaris Miuccia Prada secara terbuka mengakui bahwa rumah mode memang merancang busana mahal untuk kalangan berada. Sementara itu, desainer seperti Glenn Martens melihat media sosial sebagai ruang demokratisasi kritik sekaligus tantangan baru, karena publik kini bebas berkomentar tanpa selalu memahami sejarah dan teknik di balik sebuah karya.

Sejumlah label seperti Fendi, Bottega Veneta, hingga Armani tetap mempertahankan strategi klasik: pertunjukan spektakuler untuk menarik klien elite dan mendorong penjualan aksesori ikonik. Di tengah perdebatan tentang aksesibilitas dan eksklusivitas, fashion tampaknya semakin menegaskan identitasnya sebagai simbol status yang sulit dijangkau banyak orang.