JAKARTA, Cobisnis.com – Amerika Serikat mulai menarik sebagian pasukan militernya dari Irak dan Kuwait di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran. Langkah ini dilakukan setelah sejumlah pangkalan militer AS di kawasan tersebut beberapa kali menjadi sasaran serangan rudal dan drone.
Laporan mengenai penyesuaian penempatan pasukan itu pertama kali diungkap The Wall Street Journal pada akhir Juli 2026. Kuwait yang selama ini menjadi pusat logistik utama militer AS di kawasan Teluk kini menjadi salah satu lokasi yang dievaluasi menyusul meningkatnya ancaman keamanan.
Di Irak, AS juga mulai menarik sistem pertahanan udara Patriot dari pangkalan militernya. Selain itu, personel militer secara bertahap ditarik dari Bandara Internasional Erbil yang menjadi salah satu basis terakhir pasukan Amerika di negara tersebut.
Proses penarikan disebut telah berlangsung sejak pekan lalu. Sebagian besar personel dan perlengkapan militer dilaporkan telah meninggalkan pangkalan, sementara sistem pertahanan Patriot dipindahkan ke lokasi yang tidak diumumkan kepada publik.
Sejumlah pejabat menyebut kebijakan ini merupakan bagian dari rencana penarikan pasukan AS dari Irak. Sesuai jadwal, seluruh personel militer Amerika ditargetkan meninggalkan Irak paling lambat pada 30 September 2026.
Di tengah situasi tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan pernyataan yang menarik perhatian. Dalam rapat kabinet di Camp David, ia mengakui Iran mampu bertahan meski menghadapi tekanan militer yang besar.
Trump mengatakan banyak negara kemungkinan akan menyerah dalam kondisi serupa, namun Iran tetap mampu bertahan. Meski memberikan pengakuan terhadap ketangguhan Iran, ia meyakini kemampuan negara tersebut akan terus melemah seiring waktu.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah kedua negara saling melancarkan serangan terhadap sejumlah target dalam beberapa hari terakhir. Trump pun mengimbau masyarakat Amerika Serikat untuk tetap waspada terhadap potensi eskalasi konflik.