Aset Kripto Rp108,79 Triliun Raib, FBI Tuduh Korea Utara Retas Binance

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 01 Nov 2026, 11:56 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Biro Investigasi Federal Amerika Serikat atau FBI menuduh Korea Utara berada di balik peretasan bursa kripto Binance yang menimbulkan kerugian lebih dari US$6 miliar. Nilainya setara sekitar Rp108,79 triliun dengan kurs Rp18.130 per dolar AS.

Aksi tersebut disebut sebagai salah satu peretasan aset virtual terbesar dalam sejarah. FBI menyatakan kelompok peretas yang berafiliasi dengan Pyongyang, TraderTraitor, menjadi dalang utama serangan tersebut.

Dalam pernyataannya, FBI menyebut Korea Utara bertanggung jawab atas pencurian aset virtual senilai lebih dari US$6 miliar dari Binance. Insiden itu disebut terjadi pada atau sekitar 29 Oktober 2026.

FBI juga mengamati peretas mulai mengonversi aset curian ke bentuk Ethereum. Proses pencucian uang diperkirakan berlanjut melalui layanan keuangan terdesentralisasi atau DeFi dan platform pertukaran instan.

Untuk menekan pergerakan dana ilegal, FBI mendesak pihak swasta memblokir transaksi yang terhubung dengan alamat dompet digital kelompok tersebut. Langkah itu dilakukan untuk membatasi perpindahan aset hasil peretasan.

Di sisi lain, Binance menyatakan akan menanggung seluruh kerugian finansial yang dialami penggunanya. Perusahaan mengonfirmasi telah menyisihkan lebih dari US$6,34 miliar atau sekitar Rp114,96 triliun dari dana kas internal.

Sebagian besar dana tersebut telah digunakan untuk membeli kembali token dan mengganti 90 persen aset yang hilang. Sementara penggantian sisanya membutuhkan waktu karena persoalan likuiditas.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump merespons tuduhan FBI dengan sikap lebih hati-hati. Ia mengaku pemerintah masih mempelajari kasus tersebut dan belum memastikan keterlibatan Korea Utara secara penuh.

"Saya tidak khawatir. Kami sedang mempelajari hal ini. Kami tidak tahu apakah itu Korea Utara," kata Trump kepada wartawan di Florida pada Sabtu, 31 Oktober 2026.

Binance sempat menangguhkan seluruh fitur penarikan dana setelah serangan terjadi. Layanan tersebut kemudian dipastikan akan kembali beroperasi normal pada Minggu, 1 November 2026.

Kabar peretasan ini juga memicu kepanikan di pasar kripto. Harga Bitcoin sempat turun hampir 5 persen, Ethereum merosot 6 persen, sementara token BNB anjlok hingga 10 persen.

Kelompok TraderTraitor diyakini merupakan bagian dari Lazarus Group. Kelompok yang berafiliasi dengan Korea Utara itu sebelumnya juga dituduh terlibat dalam pencurian aset kripto senilai US$1,5 miliar dari Bybit pada Februari tahun lalu.