Berobat ke Malaysia, Langkah Gubernur Kalbar Ria Norsan Disorot di Tengah Isu Hukum

Oleh Hidayat Taufik pada 07 Apr 2026, 12:08 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Keputusan Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, menjalani pemeriksaan kesehatan di Malaysia memicu perhatian publik. Langkah ini menjadi sorotan karena muncul di tengah isu hukum yang turut menyeret namanya.

Norsan diketahui melakukan perjalanan ke Kuching pada 3 April 2026. Ia menjelaskan kunjungan tersebut bertujuan untuk menjalani pemeriksaan kesehatan setelah mengalami vertigo.

“Sekadar check-up saja. Kemarin sempat vertigo, mungkin karena kelelahan,” ujarnya.

Ia menegaskan perjalanan dilakukan secara singkat dan bertepatan dengan hari libur. Norsan juga menyebut dirinya telah kembali ke Indonesia pada hari yang sama.

Selain itu, ia memastikan kondisi kesehatannya sudah membaik dan aktivitas pemerintahan kembali berjalan normal.

Namun demikian, keputusan tersebut memicu perhatian karena dinilai tidak sejalan dengan imbauan pemerintah. Sebelumnya, Joko Widodo mendorong masyarakat untuk memanfaatkan layanan kesehatan dalam negeri.

Di sisi lain, Norsan juga pernah menyampaikan imbauan serupa kepada masyarakat. Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan publik terkait konsistensi antara pernyataan dan tindakan pejabat.

Sementara itu, perjalanan ke Malaysia turut memunculkan berbagai persepsi. Sejumlah informasi menyebut kunjungan dilakukan bersama keluarga, sehingga dianggap sebagai perjalanan nonresmi.

Situasi tersebut berkembang menjadi perbincangan publik, terutama karena terjadi dalam momentum yang sensitif.Lebih lanjut, nama Norsan sebelumnya dikaitkan dengan pemeriksaan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi dalam kasus dugaan korupsi proyek jalan di Kabupaten Mempawah.

Menanggapi hal itu, Norsan membantah adanya pemanggilan KPK pada waktu yang bersamaan dengan keberangkatannya.“Tidak ada panggilan dari KPK pada tanggal tersebut,” tegasnya.

Meski begitu, keterkaitan dengan isu hukum membuat aktivitas yang dilakukan menjadi lebih mendapat perhatian publik.

Dalam kondisi seperti ini, transparansi dinilai menjadi hal penting untuk menghindari spekulasi. Terlebih, setiap keputusan pejabat publik dapat memicu respons luas di masyarakat.

Selain itu, sorotan terhadap Norsan juga berkaitan dengan persepsi publik terhadap kepemimpinannya. Sejumlah warga menilai pembangunan di beberapa wilayah masih menghadapi tantangan, termasuk kondisi infrastruktur jalan.

Di sisi lain, gaya hidup pejabat juga kerap menjadi perhatian. Hal ini kemudian memperkuat sensitivitas publik terhadap berbagai keputusan, termasuk perjalanan ke luar negeri.

Hingga saat ini, belum ada keterangan lanjutan dari KPK terkait perkembangan kasus yang dikaitkan dengan Norsan.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa keputusan pribadi pejabat publik dapat berdampak luas. Terutama ketika terjadi di tengah isu kebijakan nasional dan dinamika hukum yang sedang berkembang.