JAKARTA, Cobisnis.com - Kuliah di Jepang masih jadi incaran banyak mahasiswa Indonesia, tapi biaya hidupnya perlu diperhitungkan matang sebelum berangkat.
Berdasarkan estimasi terbaru 2026, mahasiswa internasional rata-rata butuh 90.000 hingga 150.000 yen per bulan, atau setara Rp9 juta hingga Rp16 juta.
Di kota besar seperti Tokyo dan Osaka, angkanya bisa mencapai 100.000 hingga 160.000 yen per bulan, sekitar Rp10 juta hingga Rp17 juta.
Di kota yang lebih kecil, biaya bisa ditekan di kisaran 60.000 hingga 100.000 yen atau Rp6 juta hingga Rp10 juta.
Komponen terbesar yang menguras kantong adalah tempat tinggal. Asrama kampus jadi pilihan paling hemat di kisaran 10.000 hingga 30.000 yen, sementara apartemen pribadi bisa tembus 80.000 yen per bulan.
Biaya makan sangat tergantung kebiasaan. Masak sendiri bisa ditekan di 25.000 hingga 35.000 yen, tapi sering makan di luar bisa melonjak hingga 50.000 yen.
Transportasi di Jepang nyaman tapi perlu diperhitungkan. Mahasiswa biasanya pakai commuter pass di kisaran 5.000 hingga 15.000 yen, dan di kota kecil banyak yang pilih sepeda.
Utilitas listrik, gas, dan air rata-rata 8.000 hingga 20.000 yen per bulan. Angka ini bisa naik saat musim dingin karena kebutuhan pemanas meningkat.
Internet dan komunikasi berkisar 3.000 hingga 8.000 yen per bulan. Kebutuhan harian seperti sabun dan laundry rata-rata 7.000 hingga 10.000 yen, kecil tapi kalau tidak dipantau bisa bikin boncos.
Strategi hemat yang banyak dipakai adalah memilih asrama atau share house, rutin masak sendiri, dan belanja di toko barang bekas. Diskon pelajar untuk transportasi dan hiburan juga sayang untuk dilewatkan.
Kerja paruh waktu atau baito jadi pilihan populer untuk tambah pemasukan. Selain bantu finansial, pengalaman kerja di Jepang juga punya nilai lebih untuk karier ke depan.
Kuliah di Jepang butuh persiapan finansial yang serius, tapi masih sangat bisa dikelola. Kuncinya ada di perencanaan yang matang dan gaya hidup yang disesuaikan sejak hari pertama.