JAKARTA, Cobisnis.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyebut hujan yang masih turun di Jakarta dipicu aktivitas atmosfer skala besar. Padahal, sebagian wilayah sudah mulai memasuki musim kemarau.
Deputi Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan fenomena itu terjadi karena gelombang Equatorial Rossby dan Madden-Julian Oscillation (MJO).
Selain itu, kedua fenomena tersebut bergerak bersamaan di wilayah Jawa bagian barat. Kondisi ini lalu memicu pembentukan awan hujan lebih intens.
Akibatnya, Jakarta masih mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dalam beberapa hari terakhir. Bahkan, beberapa wilayah mengalami angin kencang dan cuaca ekstrem.
Equatorial Rossby merupakan gelombang atmosfer yang bergerak di sekitar khatulistiwa akibat rotasi bumi. Sementara itu, MJO bergerak dari Samudra Hindia menuju Samudra Pasifik dalam siklus 30 hingga 60 hari.
BMKG menilai kondisi tersebut hanya bersifat sementara. Karena itu, proses peralihan menuju musim kemarau tetap berlangsung secara bertahap.
Saat ini, Jakarta Utara mulai memasuki musim kemarau. Kemudian, Jakarta Pusat diperkirakan menyusul pada pertengahan Mei 2026.
Sementara itu, Jakarta Selatan diprediksi baru memasuki musim kemarau pada akhir Mei 2026.