Bos Instagram Bantah Medsos Bisa ‘Kecanduan Secara Klinis’ dalam Sidang Bersejarah

Oleh Zahra Zahwa pada 12 Feb 2026, 17:10 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Kepala Instagram, Adam Mosseri, membantah bahwa pengguna dapat mengalami “kecanduan secara klinis” terhadap aplikasi media sosial tersebut saat memberikan kesaksian dalam persidangan penting yang menggugat induk perusahaan Instagram dan YouTube, Meta.

Mosseri menjadi eksekutif pertama yang bersaksi dalam persidangan terhadap Meta atas gugatan seorang perempuan berusia 20 tahun yang diidentifikasi sebagai Kaley. Penggugat menuduh perusahaan sengaja merancang fitur-fitur adiktif untuk “mengikat” pengguna muda, yang menurutnya berdampak buruk pada kesehatan mentalnya.

Kasus ini merupakan yang pertama dari lebih dari 1.500 gugatan serupa yang masuk ke tahap persidangan, dan dinilai dapat menjadi ujian apakah raksasa media sosial bisa dimintai pertanggungjawaban atas dugaan dampak negatif terhadap kesehatan mental remaja.

Dalam kesaksiannya, Mosseri mengatakan ia tidak percaya seseorang bisa kecanduan Instagram secara klinis, tetapi mengakui adanya kemungkinan “penggunaan bermasalah” yang berbeda pada tiap individu.

“Itu relatif,” ujarnya. “Ya, bagi individu tertentu, ada penggunaan Instagram yang melebihi batas kenyamanan mereka.” Ia mengibaratkannya seperti “menonton TV lebih lama dari yang terasa baik.”

Mosseri, yang menjabat sebagai kepala Instagram sejak 2018, juga membantah tudingan bahwa Instagram secara khusus menargetkan remaja demi memaksimalkan keuntungan.

“Kami menghasilkan lebih sedikit uang dari remaja dibandingkan kelompok demografis lain di platform,” katanya. “Remaja tidak banyak mengklik iklan dan tidak memiliki banyak pendapatan yang bisa dibelanjakan.”

Pengacara penggugat, Mark Lanier, menyoroti sejumlah fitur seperti “infinite scroll”, autoplay, serta tombol “like” yang disebutnya memberi efek seperti “suntikan kimia” bagi remaja yang mencari validasi sosial. Gugatan juga menyoroti penggunaan “beauty filter” yang dapat mengubah wajah pengguna dan diduga berkontribusi terhadap gangguan citra tubuh, serta pengalaman perundungan dan sextortion yang dialami Kaley.

Dalam persidangan terungkap bahwa Kaley mulai menggunakan Instagram pada usia sembilan tahun, meskipun batas usia minimum aplikasi tersebut adalah 13 tahun.

Mosseri juga ditanya mengenai dokumen internal tahun 2019 yang memperdebatkan pelarangan filter wajah tertentu. Beberapa email internal menyebut para ahli sepakat bahwa filter tersebut berpotensi menimbulkan dampak negatif, termasuk mendorong gangguan citra tubuh pada remaja perempuan.

Instagram sempat mempertimbangkan pelarangan semua filter yang mendistorsi wajah, namun kemudian hanya melarang filter yang secara eksplisit mempromosikan operasi plastik. Filter yang memperbesar bibir atau mengecilkan hidung tetap diizinkan, meskipun tidak lagi direkomendasikan secara aktif.

Persidangan juga menyinggung kompensasi Mosseri. Ia menyebut gaji pokoknya sekitar US$900.000 per tahun, dengan total kompensasi yang dalam beberapa tahun bisa melebihi US$10 juta hingga US$20 juta termasuk bonus dan opsi saham. Namun ia menegaskan keputusan produk tidak didorong oleh kekhawatiran terhadap harga saham perusahaan.

Sementara itu, pihak Meta berargumen bahwa tantangan kesehatan mental Kaley sudah ada sebelum ia menggunakan media sosial, dan menyebut Instagram bukan faktor utama penyebabnya.

Juri dalam persidangan ini kemungkinan tidak akan mendengar banyak argumen terkait konten spesifik di Instagram atau YouTube karena adanya perlindungan hukum Section 230, undang-undang federal AS yang melindungi perusahaan teknologi dari tanggung jawab atas konten yang diunggah pengguna.

Persidangan ini menjadi sorotan global karena berpotensi membentuk arah regulasi dan tanggung jawab hukum perusahaan media sosial terhadap pengguna muda di masa depan.