Cegah Karhutla, Pendakian Gunung Tambora Ditutup

Oleh Desti Dwi Natasya pada 02 Sep 2026, 11:51 WIB

Pendakian Gunung Tambora di Dompu, NTB, ditutup sementara mulai 1 September 2026 untuk mencegah risiko kebakaran hutan dan lahan. (Foto/Balai TNGT)

JAKARTA, Cobisnis.com - Aktivitas pendakian di Gunung Tambora, Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), ditutup sementara mulai 1 September 2026. Kebijakan tersebut diterapkan Balai Taman Nasional (BTN) Tambora sebagai langkah mitigasi untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau.

Kepala Balai TN Tambora Abdul Aziz Bakry mengatakan penutupan dilakukan untuk mengantisipasi meningkatnya risiko kebakaran sekaligus menjaga keselamatan pengunjung dan kelestarian kawasan.

"Penutupan sementara dilakukan sebagai langkah mitigasi dan pencegahan meningkatnya risiko kebakaran hutan pada musim kemarau, sekaligus untuk menjamin keselamatan pengunjung serta perlindungan ekosistem Taman Nasional Tambora," ungkap Abdul Aziz Bakry, Rabu (2/8/2026).

Penutupan tersebut mengacu pada Surat Edaran (SE) Direktur Jenderal (Dirjen) Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Nomor SE.4/KSDAE/SKSDAE/KSA.02.02/B/08/2026 tentang Penutupan Sementara dan Pembukaan Secara Terbatas Wisata Pendakian Gunung di Kawasan Suaka Alam (KSA) dan Kawasan Pelestarian Alam (KPA).

Seluruh jalur pendakian di kawasan Gunung Tambora ditutup sementara, termasuk jalur Pancasila, jalur offroad Doro Canga, jalur Kawidna To'i, serta jalur offroad Piong.

"Selama masa penutupan, seluruh aktivitas pendakian melalui keempat jalur tersebut tidak diperkenankan dan petugas akan meningkatkan pengamanan, pengawasan kawasan, patroli pencegahan karhutla serta pengendalian akses pada pintu-pintu masuk pendakian," terang Abdul.

Masyarakat, calon pendaki, operator wisata, pemandu, porter, serta pelaku usaha jasa wisata di sekitar TN Tambora diminta mematuhi kebijakan tersebut dan ikut mendukung pencegahan karhutla.

Adapun pembukaan kembali jalur pendakian belum ditentukan. Keputusan akan mempertimbangkan hasil evaluasi risiko kebakaran, perkembangan musim kemarau, kondisi lapangan, serta arahan dari Direktorat Jenderal KSDAE.

"Pembukaan kembali jalur pendakian akan ditetapkan berdasarkan hasil evaluasi tingkat risiko kebakaran hutan, perkembangan kondisi musim kemarau, kondisi lapangan, serta arahan lebih lanjut dari Direktorat Jenderal KSDAE," ujar Abdul.

TN Tambora sendiri merupakan kawasan pelestarian alam seluas 71.645,64 hektare yang telah ditetapkan UNESCO sebagai Cagar Biosfer Dunia. Kawasan tersebut menjadi habitat berbagai satwa liar, antara lain kakaktua kecil jambul kuning, nuri kepala merah, kirik-kirik australia, dan rusa timor.