Enam Bulan Konflik Iran, Perang Trump Berdampak hingga Ekonomi Global

Oleh Zahra Zahwa pada 28 Aug 2026, 18:21 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Enam bulan setelah Amerika Serikat memulai perang dengan Iran, konflik tersebut belum menunjukkan penyelesaian. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyebut operasi itu sebagai “ekskursi”. Ia memperkirakan konflik hanya berlangsung beberapa pekan.

Namun, perang kini berkembang menjadi persoalan besar bagi banyak pihak. Dampaknya terasa di Iran, kawasan Timur Tengah, hingga ekonomi global.

Bagi masyarakat Iran, konflik tersebut membawa tekanan berat. Sementara itu, jutaan warga di negara lain ikut menghadapi dampak perang. Konsumen global juga merasakan konsekuensinya melalui kenaikan sejumlah biaya. Gangguan geopolitik turut menambah tekanan terhadap kondisi ekonomi dunia.

Di sisi lain, tujuan awal Trump belum sepenuhnya tercapai. Bahkan, pemerintah AS terus mengubah tuntutan selama konflik berlangsung. Pada awal perang, Trump menuntut Iran menyerah sepenuhnya. Ia juga mendorong perubahan rezim dan penghentian ambisi nuklir Iran.

Namun, tuntutan tersebut kemudian bergeser. Kini, Trump lebih menekankan pembukaan kembali Selat Hormuz. Selain itu, pemerintah AS ingin Iran membatasi kembali program nuklirnya. Perubahan sasaran tersebut menunjukkan kompleksitas konflik yang semakin besar.

Selat Hormuz memiliki posisi strategis bagi perdagangan energi dunia. Karena itu, gangguan di jalur tersebut dapat berdampak jauh melampaui Timur Tengah.

Konflik berkepanjangan juga meningkatkan risiko terhadap stabilitas ekonomi global. Kenaikan biaya dapat kembali menekan rumah tangga dan pelaku usaha.

Meski begitu, Trump masih menghadapi tantangan untuk mencapai tujuan politik dan strategisnya. Perang yang semula diperkirakan singkat justru terus berlarut.

Kini, konflik Iran tidak lagi sekadar persoalan hubungan Washington dan Tehran. Dampaknya telah berkembang menjadi risiko geopolitik dan ekonomi internasional. Enam bulan setelah dimulai, perang tersebut menjadi pengingat bahwa konflik militer sulit dikendalikan setelah memasuki fase berkepanjangan.