Firman Soebagyo Peringatkan Bahaya Manipulasi Stok Beras Bulog

Oleh Desti Dwi Natasya pada 14 May 2026, 16:54 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo menyoroti stok beras Bulog yang mencapai 5,3 juta ton. Ia menilai penumpukan beras tanpa manajemen stok yang baik dapat memicu kerugian negara hingga dugaan manipulasi data.

Firman mengatakan beras yang disimpan terlalu lama berisiko mengalami penurunan kualitas. Menurutnya, penyimpanan lebih dari enam hingga sembilan bulan tanpa pengendalian suhu dan kelembapan dapat merusak komoditas.

“Betul, itu risiko nyata kalau beras Bulog ditimbun terlalu lama tanpa manajemen stok yang baik,” kata Firman, Kamis (14/5/2026).

Ia menjelaskan kelembapan tinggi dapat memicu munculnya kutu dan jamur pada beras. Selain itu, penyimpanan terlalu lama juga menyebabkan penyusutan bobot akibat penguapan dan pecah butir.

Firman menilai biaya penyimpanan seperti fumigasi, listrik gudang, dan tenaga kerja turut membebani keuangan Bulog. Karena itu, FAO menetapkan stok buffer pangan idealnya diputar setiap enam hingga sembilan bulan.

Politikus Golkar itu juga menilai penahanan stok beras dalam jumlah besar dapat memicu kenaikan harga pasar. Menurutnya, pasar akan membaca stok yang tertahan sebagai tanda keterbatasan suplai.

“Kalau stok ditahan terlalu lama, pasar menganggap suplai terbatas. Akibatnya, harga bisa naik,” ujarnya.

Firman mengungkap adanya dugaan ketidaksesuaian antara data fisik dan administrasi stok di sejumlah cabang Bulog. Ia menduga terdapat penerbitan purchase order meski barang belum masuk ke gudang.

Menurut Firman, praktik tersebut membuat target administratif terlihat tercapai walaupun stok fisik tidak sesuai. “Ini namanya manipulasi data yang sangat berbahaya,” katanya.

Ia meminta Bulog dan Badan Pangan Nasional segera melakukan audit investigatif melalui Satuan Pengawasan Internal. Firman juga menilai tekanan target kepada pimpinan cabang berpotensi memunculkan penyimpangan baru di lapangan.