Gencatan Senjata AS-Iran di Ujung Tanduk, Selat Hormuz Jadi Batu Sandungan Utama

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 30 May 2026, 20:34 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menegaskan syarat keras dalam negosiasi perpanjangan gencatan senjata dengan Iran. Melalui unggahan di Truth Social, Trump meminta Selat Hormuz dibuka penuh tanpa tarif maupun pembatasan pelayaran.

Trump juga menyebut ranjau laut akan disingkirkan dan kapal-kapal yang terdampak konflik bisa kembali beroperasi. Pernyataan itu muncul di tengah laporan bahwa keputusan final terkait kesepakatan dengan Iran akan segera diambil.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling strategis di dunia. Sebelum konflik pecah, sekitar 20 persen perdagangan minyak global melewati perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dan Laut Arab tersebut.

Di saat yang sama, Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, mengungkap hasil pembicaraannya dengan Menteri Luar Negeri Oman. Keduanya membahas masa depan pengelolaan Selat Hormuz sesuai prinsip kedaulatan dan hukum internasional.

Araghchi menegaskan pembahasan itu menunjukkan Iran belum berniat melepas kendali atas jalur pelayaran tersebut. Sebelumnya, Iran dan Oman juga disebut membahas kemungkinan penerapan sistem tarif jangka panjang bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz.

Rencana tersebut berseberangan dengan tuntutan Washington yang menginginkan jalur itu bebas tarif sepenuhnya. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, bahkan menegaskan AS siap menjatuhkan sanksi jika Oman terlibat dalam penerapan tarif tersebut.

Di tengah negosiasi yang berlangsung, sejumlah media internasional melaporkan rancangan kesepakatan yang dibahas mencakup perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari. Namun analis Pangaea Policy, Terry Haines, menilai dukungan negara-negara Teluk termasuk Oman tetap menjadi faktor penting bagi keberhasilan kesepakatan jangka panjang.