JAKARTA, Cobisnis.com - Pernah merasa sangat gelisah hanya karena pasangan ketiduran atau merasa tidak dihargai setelah mengalami sedikit ketidakpahaman dengan teman?
Hal kecil seperti itu ternyata bisa memicu reaksi emosional yang jauh lebih besar dari situasi sebenarnya.
Dr. Jimmy Ardian, spesialis kedokteran jiwa dari Wellspring Indonesia, menjelaskan kondisi tersebut berkaitan dengan trigger atau pemicu yang dapat menimbulkan ledakan emosi.
“Trigger tuh maksudnya gini kayak pistol gitu kan Ya Trigger itu adalah pelatuknya begitu Itu ditekan lalu ada ledakan,” kata Dr. Jimmy Ardian dari kanal YouTube Jiemiardian, dikutip Cobisnis Kamis (20/8/2026).
Menurutnya, pemicu tersebut bisa berupa pasangan yang ketiduran, ketidakpahaman dengan teman, hingga percakapan sederhana dengan orang tua.
Ia menjelaskan seseorang bisa mengetahui bahwa masalah yang dihadapi sebenarnya kecil, tetapi tetap kesulitan mengendalikan emosi ketika pemicu tersebut muncul.
Dr. Jimmy Ardian kemudian mengaitkan kondisi itu dengan teori ego state, yang melihat adanya berbagai bagian diri dengan perasaan dan pengalaman berbeda.
“Yang emosional yang takut ditinggalkan yang ngasa direndahkan yang ngasa apa fungsinya Aku ada di sini nih kalau teman-temanku aja enggak menghargai aku di sini dan lain sebagainya,” ujarnya.
Menurutnya, bagian diri tersebut bisa berkaitan dengan inner child yang mengalami luka atau pengalaman menyakitkan pada masa lalu.
Hal kecil pada masa sekarang kemudian dapat membangkitkan kembali perasaan dari pengalaman tersebut.
“Halnya memang spele tapi maknanya atau temanya Itu Menyakitkan dan signifikan dan besar bagi diri kita yang masih kecil tadi atau yang terluka tadi,” ungkapnya.
Dr. Jimmy Ardian mengatakan kondisi tersebut idealnya ditangani dengan bantuan profesional kesehatan jiwa, terutama jika berkaitan dengan trauma.
“Kalau kamu ragu datang ke profesional kesehatan jiwa yang mengerti tema-tema trauma untuk trauma ini disembuhkan,” tegasnya.
Ia menambahkan, tujuan penanganan bukan sekadar membuat seseorang berdamai dengan kondisi ketika terpicu, tetapi membantu menyembuhkan bagian diri yang terluka agar tidak terus memberikan reaksi emosional yang sama.
Dengan memahami bahwa pemicu kecil dapat berkaitan dengan pengalaman yang lebih dalam, seseorang diharapkan tidak langsung menyalahkan dirinya ketika mengalami reaksi emosional yang kuat.