Harga Bitcoin Masih Rawan Turun, Tekanan Jual dan Sentimen Global Jadi Pemicu

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 27 Feb 2026, 07:28 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Harga Bitcoin kembali menyentuh level US$ 68.060 pada perdagangan Kamis (26/2/2026), namun penguatan ini dinilai belum sepenuhnya solid dari sisi fundamental pasar.

Kenaikan tersebut terjadi setelah sentimen global membaik, terutama usai Amerika Serikat memastikan tidak ada eskalasi tarif tambahan terhadap barang asal China.

Pernyataan itu meredakan kekhawatiran perang dagang dan memicu mode risk-on di pasar keuangan, termasuk aset kripto yang sensitif terhadap isu likuiditas global.

Meski begitu, struktur pasar Bitcoin saat ini disebut masih rapuh. Tekanan jual dari investor jangka pendek belum benar-benar mereda sejak koreksi tajam pada akhir 2025.

Banyak pelaku pasar yang masih melepas aset dalam posisi rugi, mencerminkan belum pulihnya kepercayaan penuh terhadap tren naik jangka menengah.

Di sisi lain, arus dana institusional ke produk ETF Bitcoin juga belum konsisten. Sejumlah manajer investasi bahkan tercatat mengurangi eksposur kripto pada penghujung tahun lalu.

Kondisi ini membuat kenaikan harga lebih dipicu sentimen jangka pendek ketimbang arus modal besar yang berkelanjutan.

Secara teknikal, beberapa indikator seperti RSI memang mulai keluar dari area oversold, memberi sinyal potensi pembentukan dasar harga.

Namun pasar kripto saat ini berada dalam fase negative gamma, yakni pergerakan harga yang cenderung lebih liar dan sensitif terhadap sentimen eksternal.

Selain isu tarif, laporan keuangan Nvidia juga ikut memberi dorongan psikologis ke pasar. Perusahaan tersebut membukukan pendapatan kuartalan US$ 68,1 miliar dengan laba per saham US$ 1,62, melampaui ekspektasi.

Kinerja tersebut memperkuat optimisme sektor teknologi dan AI, yang sering berkorelasi dengan minat terhadap aset berisiko seperti kripto.

Meski demikian, untuk menembus level psikologis US$ 70.000, Bitcoin dinilai membutuhkan kombinasi sentimen makro yang stabil dan kembalinya aliran dana institusional secara konsisten.

Tanpa dua faktor tersebut, reli yang terjadi saat ini masih berpotensi mengalami koreksi, terutama jika tekanan jual kembali meningkat.