Harga Emas Dunia Terkoreksi, Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Makin Besar

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 09 Jul 2026, 07:48 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Harga emas dunia ditutup melemah pada akhir perdagangan Rabu waktu Amerika Serikat atau Kamis pagi WIB. Pelemahan terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan kesepakatan sementara dengan Iran telah berakhir.

Pernyataan tersebut kembali meningkatkan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Di saat yang sama, harga minyak melonjak sehingga memicu kekhawatiran pasar terhadap kenaikan inflasi.

Mengutip Reuters, harga emas spot turun 0,9 persen menjadi 4.067,39 dollar AS per ons. Angka tersebut menjadi level terendah sejak 1 Juli 2026.

Kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus juga ikut melemah. Harganya turun 1,8 persen menjadi 4.082,40 dollar AS per ons.

Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger, mengatakan meningkatnya eskalasi konflik antara AS dan Iran menjadi faktor utama yang menggerakkan pasar. Kondisi tersebut membuat investor kembali menghitung risiko dari berbagai aset.

Ketegangan meningkat setelah Iran menyatakan telah menargetkan fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait. Pernyataan itu muncul sebagai respons atas serangan militer AS terhadap sasaran Iran dan insiden di Selat Hormuz.

Situasi tersebut mendorong harga minyak mentah melonjak lebih dari 5 persen. Kenaikan harga energi diperkirakan dapat memperbesar tekanan inflasi global.

Di sisi lain, risalah rapat Federal Reserve pada 16 hingga 17 Juni 2026 menunjukkan pejabat bank sentral AS masih mengkhawatirkan inflasi. Beberapa peserta rapat bahkan menilai kenaikan suku bunga perlu segera dilakukan.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang The Fed menaikkan suku bunga pada September kini mencapai sekitar 69 persen. Angka itu naik dari 62 persen sehari sebelumnya, sehingga semakin menekan daya tarik investasi emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Bank of America juga memangkas proyeksi rata rata harga emas tahun 2026 sebesar 14 persen menjadi 4.360 dollar AS per ons. Meski begitu, bank tersebut masih memperkirakan harga emas berpotensi menyentuh 5.000 dollar AS per ons setelah siklus pengetatan moneter berakhir.