JAKARTA, Cobisnis.com – Kelompok Hezbollah Lebanon membantah tuduhan pemerintah Yaman yang menyebut mereka mengirim tujuh ahli militer untuk membantu kelompok Houthi mengelola operasi militer dan mengembangkan kemampuan persenjataan di negara tersebut.
Bantahan itu disampaikan melalui kantor hubungan media Hezbollah pada Rabu (4/11/2026), setelah Menteri Dalam Negeri pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, Ibrahim Ali Haidan, mengungkap dugaan keterlibatan personel asing dalam operasi Houthi.
Dalam pernyataannya, Hezbollah menilai tuduhan tersebut tidak memiliki dasar dan tidak sesuai dengan fakta. Kelompok itu juga membantah terlibat dalam pengelolaan operasi militer, pengembangan persenjataan, maupun pelatihan pasukan Houthi.
Hezbollah menyatakan rakyat Yaman memiliki kemampuan, sumber daya, dan keahlian sendiri untuk mempertahankan negara serta kedaulatannya tanpa membutuhkan intervensi pihak luar.
Kelompok tersebut juga menekankan pentingnya dialog yang serius dan bertanggung jawab di antara seluruh pihak di Yaman untuk menjaga persatuan, stabilitas, dan kedaulatan negara.
Yaman Tuduh 21 Ahli Asing Bantu Houthi
Sebelumnya, Ibrahim Ali Haidan menuduh terdapat 21 tenaga ahli asing yang membantu kelompok Houthi mengelola operasi militer. Rinciannya, 14 orang disebut berasal dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), sedangkan tujuh lainnya diklaim merupakan anggota Hezbollah.
Menurut Haidan, keterlibatan para ahli tersebut tidak hanya terbatas pada pelatihan dan penyediaan persenjataan, tetapi juga mencakup perencanaan serta pengelolaan operasi militer.
Ia menyebut para ahli tersebut memiliki keahlian dalam pengembangan rudal balistik, drone, peperangan elektronik, jaringan penyelundupan komponen militer, serta koordinasi operasi maritim.
Haidan juga menuduh mereka terlibat dalam pemilihan sasaran kapal komersial, pengembangan kapal bermuatan bahan peledak, dan pelatihan taktik militer bagi pasukan Houthi.
Pemerintah Yaman menyatakan dugaan aktivitas tersebut mengancam keamanan kawasan, keselamatan pelayaran, serta kebebasan navigasi di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab.
Namun, tuduhan mengenai keterlibatan tujuh ahli Hezbollah tersebut dibantah oleh kelompok Lebanon itu. Hingga kini, informasi yang disampaikan pemerintah Yaman dan bantahan Hezbollah masih menjadi bagian dari pernyataan masing-masing pihak.
Ketegangan Yaman Meningkat
Tuduhan tersebut muncul ketika konflik antara pasukan pemerintah Yaman dan kelompok Houthi kembali meningkat di sejumlah wilayah.
Pemerintah Yaman sebelumnya menuduh Iran dan Hezbollah memperluas dukungan terhadap Houthi, termasuk melalui bantuan militer dan pengembangan kemampuan persenjataan.
Sementara itu, Hezbollah menegaskan rakyat Yaman tidak membutuhkan dukungan maupun intervensi pihak luar untuk mempertahankan negara mereka.
Perbedaan pernyataan tersebut menambah ketegangan di tengah konflik yang telah berlangsung bertahun-tahun. Upaya dialog dan penyelesaian politik dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga stabilitas serta mencegah eskalasi lebih lanjut di Yaman.