JAKARTA, Cobisnis.com – Dua lokasi pemakaman yang terpisah kurang dari 10 mil di tengah hiruk-pikuk kota Asia berpenduduk 14 juta jiwa menjadi saksi bisu kengerian, pengorbanan, dan sejarah Perang Dunia II. Keduanya berada di Manila, Filipina, dan menyimpan kisah kelam konflik global yang hingga kini masih terasa jejaknya.
Salah satunya adalah Manila American Cemetery, pemakaman Perang Dunia II terbesar milik Amerika Serikat. Di atas lahan seluas 152 hektare, lebih dari 17.000 tentara dimakamkan, hampir semuanya gugur dalam pertempuran di kawasan Pasifik antara 1941 hingga 1945. Deretan 16.938 salib Latin dan 175 Bintang Daud tertata rapi di atas hamparan rumput yang terawat dengan sempurna.
Di puncak bukit pemakaman tersebut berdiri sebuah monumen bundar yang mengabadikan 36.286 nama prajurit yang jasadnya tak pernah ditemukan. Sekitar 3.000 batu nisan bertuliskan kalimat yang menyayat hati: “A comrade in arms known but to God” seorang rekan seperjuangan yang hanya dikenal oleh Tuhan.
Salah satu nama yang tertera adalah Private First Class Alfred Davenport, prajurit infanteri kulit hitam berusia 20 tahun asal North Carolina yang meninggal akibat luka perang di Bougainville pada 1944. Kisah lain datang dari lima bersaudara Sullivan asal Iowa, yang seluruhnya tewas ketika kapal USS Juneau ditenggelamkan torpedo Jepang pada Pertempuran Guadalcanal 1942. Tragedi itu tercatat sebagai kehilangan terbesar satu keluarga dalam sejarah militer Amerika.
Namun Manila American Cemetery bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir. Dinding monumennya dipenuhi peta mosaik berwarna yang menggambarkan jalannya Perang Pasifik, dari Pertempuran Midway hingga operasi kapal selam AS, termasuk daftar 49 kapal yang tak pernah kembali. Sebuah pusat pengunjung modern juga menyediakan pameran, kisah personal, serta tur gratis bagi pengunjung.
Sekitar sembilan mil dari pemakaman tersebut berdiri Fort Santiago, benteng batu peninggalan kolonial Spanyol yang kemudian digunakan Jepang sebagai lokasi penahanan dan penyiksaan. Di dekat pintu masuk ruang bawah tanah benteng itu terdapat sebuah salib putih tunggal yang menandai kuburan massal sekitar 600 warga Filipina dan Amerika yang tewas akibat kelaparan dan sesak napas pada hari-hari terakhir Februari 1945.
Benteng ini juga dikenal sebagai tempat terakhir Jose Rizal, pahlawan nasional Filipina, sebelum dieksekusi oleh penjajah Spanyol pada 1896. Namun perhatian pengunjung kini lebih banyak tertuju pada ruang bawah tanah yang lembap dan sempit, tempat para tahanan dibiarkan mati perlahan oleh pasukan pendudukan Jepang.
Berbagai laporan menyebutkan adanya aktivitas paranormal di Fort Santiago dan kawasan Intramuros, mulai dari perubahan suhu mendadak, bisikan, hingga penampakan. Tak jauh dari sana, berdiri monumen Memorare Manila 1945, yang mengenang sekitar 100.000 warga sipil yang tewas dalam Pertempuran Manila akibat kekejaman pasukan Jepang dan gempuran artileri Amerika.
Penulis artikel menggambarkan pengalaman pribadi yang terasa spiritual saat berjalan di antara nisan-nisan di Manila American Cemetery, ketika bayangannya tiba-tiba muncul akibat pantulan cahaya matahari dari gedung pencakar langit di Bonifacio Global City seolah masa lalu dan masa kini bertemu dalam satu momen hening.
Horor perang mungkin telah berlalu puluhan tahun silam, namun di Manila, jejaknya masih terasa sunyi, sakral, dan menghantui.