Jamkrindo

Indonesia di Era Deglobalisasi: Ancaman Baru atau Justru Peluang Emas?

Oleh Desti Dwi Natasya pada 29 Nov 2025, 06:37 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Era deglobalisasi mulai terasa di berbagai negara, ditandai dengan meningkatnya proteksionisme, perang dagang, dan kecenderungan negara-negara untuk memperkuat kemandirian industri dalam negeri. Pergeseran ini menciptakan dinamika baru bagi Indonesia yang selama ini memanfaatkan globalisasi sebagai pendorong ekspor dan pertumbuhan ekonomi. Pertanyaannya: deglobalisasi ini ancaman atau peluang?

Dari sisi ancaman, deglobalisasi berpotensi menghambat akses pasar Indonesia. Negara tujuan ekspor mungkin mulai memperketat impor dan memprioritaskan produk domestik. Kondisi ini bisa mengurangi daya dorong industri yang bergantung pada pasar luar negeri, seperti tekstil, furnitur, dan komoditas mentah. Selain itu, aliran investasi asing bisa melambat karena investor lebih berhati-hati menanamkan modal di luar negeri.

Rantai pasok global yang terpecah juga bisa menjadi tantangan besar. Industri Indonesia yang masih mengandalkan bahan baku impor berpotensi mengalami kenaikan biaya produksi sekaligus keterlambatan distribusi. Jika tidak diantisipasi, kondisi ini bisa melemahkan daya saing dan memperlambat ekspansi industri lokal.

Namun, di balik ancaman tersebut, era deglobalisasi juga membuka kesempatan besar bagi Indonesia untuk memperkuat fondasi ekonomi domestik. Ketika negara-negara cenderung menutup diri, Indonesia punya peluang membangun kemandirian industri, terutama pada sektor-sektor strategis seperti energi, pangan, dan manufaktur dasar. Ini bisa menjadi momentum mendorong substitusi impor dan mempercepat industrialisasi dalam negeri.

Deglobalisasi juga bisa menjadi peluang bagi UMKM lokal. Dengan pergeseran preferensi masyarakat ke produk lokal dan meningkatnya kebutuhan terhadap rantai pasok yang lebih dekat, UMKM berpotensi menjadi pemain utama dalam ekosistem produksi baru. Pemerintah hanya perlu memastikan dukungan akses teknologi, modal, dan pasar.

Selain itu, Indonesia bisa memanfaatkan posisinya sebagai negara besar dengan pasar domestik yang kuat. Di tengah tren penutupan ekonomi global, negara dengan populasi besar punya keuntungan karena permintaan dalam negeri bisa menjadi motor utama pertumbuhan. Ini membuat Indonesia lebih resilien dibanding negara kecil yang sangat bergantung pada ekspor.

Jika dikelola strategis, Indonesia dapat mengubah deglobalisasi menjadi momentum memperbaiki struktur ekonomi: mulai dari memperkuat industri hilir, meningkatkan inovasi, hingga mempercepat transformasi digital. Kuncinya ada pada kemampuan pemerintah dan pelaku usaha melihat perubahan ini bukan sebagai ancaman semata, tapi sebagai peluang membangun kemandirian ekonomi jangka panjang.

Pada akhirnya, era deglobalisasi adalah ujian sekaligus kesempatan. Indonesia bisa tertekan jika tetap bergantung pada pola lama, namun bisa melesat jika fokus memperkuat kapasitas domestik. Dengan arah kebijakan yang tepat, deglobalisasi bukan berarti kemunduran—justru bisa menjadi titik awal menuju ekonomi nasional yang lebih mandiri, tangguh, dan kompetitif.