JAKARTA, Cobisnis.com – Negara-negara Asia Tenggara mulai bikin gebrakan di perdagangan global dengan komitmen nambah impor produk pertanian dari Amerika Serikat. Langkah ini berpotensi ngubah alur perdagangan gandum, jagung, dan bungkil kedelai, sekaligus ngurangi dominasi pemasok dari Australia, Kanada, Rusia, dan Amerika Selatan.
Indonesia jadi salah satu negara yang udah teken kesepakatan. Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia sepakat beli 1 juta ton gandum AS tiap tahun, naik signifikan dari realisasi 2024 yang hanya 693 ribu ton. Sejak Juli, sekitar 250 ribu ton gandum udah diamankan lewat transaksi dengan eksportir AS.
Bangladesh juga ikut nimbrung dengan komitmen impor 700 ribu ton gandum AS per tahun. Per Juli, negeri itu udah setuju masukin 220 ribu ton pertama, naik tajam dari hampir nol impor di tahun sebelumnya.
Vietnam makin agresif dengan rencana belanja produk pertanian AS senilai USD 2 miliar, termasuk jagung, gandum, bungkil kedelai, dan produk pakan lainnya. Data USDA nunjukin Vietnam udah beli 1,1 juta ton jagung AS di tahun 2024/25, dan siap nambah lagi buat musim 2025/26.
Filipina dan Thailand juga diprediksi bakal ngikutin tren ini. Thailand kemungkinan impor lebih dari 1 juta ton jagung pakan dari AS dan sampai 2 juta ton kedelai, sementara Filipina berpotensi ganti 3,3 juta ton gandum pakan dari Laut Hitam dengan jagung AS, tergantung tarif impor yang bakal dipangkas.
Harga yang lebih murah jadi faktor kunci. Gandum lunak putih AS saat ini ditawarkan sekitar USD 280 per ton C&F, setara dengan gandum Laut Hitam. Jagung AS juga lebih murah USD 10–15 per ton dibanding produk Amerika Selatan, sementara bungkil kedelai lebih rendah sekitar USD 5 per ton.
Dengan konsumsi pangan Asia yang terus naik seiring pertumbuhan penduduk dan daya beli, AS diproyeksikan bakal makin kuat posisinya di pasar regional. Kondisi ini berpotensi ngegeser pangsa pasar pemasok lain dan bikin tekanan harga di perdagangan global komoditas pertanian.
Indonesia jadi salah satu negara yang udah teken kesepakatan. Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia sepakat beli 1 juta ton gandum AS tiap tahun, naik signifikan dari realisasi 2024 yang hanya 693 ribu ton. Sejak Juli, sekitar 250 ribu ton gandum udah diamankan lewat transaksi dengan eksportir AS.
Bangladesh juga ikut nimbrung dengan komitmen impor 700 ribu ton gandum AS per tahun. Per Juli, negeri itu udah setuju masukin 220 ribu ton pertama, naik tajam dari hampir nol impor di tahun sebelumnya.
Vietnam makin agresif dengan rencana belanja produk pertanian AS senilai USD 2 miliar, termasuk jagung, gandum, bungkil kedelai, dan produk pakan lainnya. Data USDA nunjukin Vietnam udah beli 1,1 juta ton jagung AS di tahun 2024/25, dan siap nambah lagi buat musim 2025/26.
Filipina dan Thailand juga diprediksi bakal ngikutin tren ini. Thailand kemungkinan impor lebih dari 1 juta ton jagung pakan dari AS dan sampai 2 juta ton kedelai, sementara Filipina berpotensi ganti 3,3 juta ton gandum pakan dari Laut Hitam dengan jagung AS, tergantung tarif impor yang bakal dipangkas.
Harga yang lebih murah jadi faktor kunci. Gandum lunak putih AS saat ini ditawarkan sekitar USD 280 per ton C&F, setara dengan gandum Laut Hitam. Jagung AS juga lebih murah USD 10–15 per ton dibanding produk Amerika Selatan, sementara bungkil kedelai lebih rendah sekitar USD 5 per ton.
Dengan konsumsi pangan Asia yang terus naik seiring pertumbuhan penduduk dan daya beli, AS diproyeksikan bakal makin kuat posisinya di pasar regional. Kondisi ini berpotensi ngegeser pangsa pasar pemasok lain dan bikin tekanan harga di perdagangan global komoditas pertanian.