JAKARTA, Cobisnis.com - Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan ancaman militer terhadap Iran. Ia menyebut aksi militer baru bisa dilakukan jika Iran berperilaku buruk.
Pernyataan itu disampaikan kepada wartawan pada Sabtu 2 Mei 2026. Trump menegaskan opsi serangan tetap terbuka tergantung perilaku Iran ke depan.
Washington dan Teheran sebenarnya masih bertukar draft perjanjian kerangka kerja. Proses negosiasi belum putus, tapi ketegangan retorika keduanya juga belum mereda.
Trump pada Jumat 1 Mei 2026 menyebut tidak puas dengan proposal Iran. Namun sehari kemudian ia bilang masih akan mempelajarinya selama penerbangan menuju Miami.
Tak lama setelah itu, Trump posting pernyataan lebih keras di Truth Social. Ia menyebut tidak bisa membayangkan proposal Iran bisa diterima.
Trump juga menegaskan Iran belum membayar harga yang cukup atas perbuatan mereka selama 47 tahun. Blokade pelabuhan Iran ia sebut sebagai tindakan yang sangat ramah dan tidak perlu dipersoalkan.
Teheran sebelumnya menyerahkan proposal revisi 14 poin pada Kamis 30 April 2026. Proposal itu memasang tenggat waktu satu bulan untuk mengamankan kesepakatan.
Isi proposal mencakup pembukaan Selat Hormuz, pengakhiran blokade angkatan laut AS, dan penghentian perang di Iran serta Lebanon. Tiga poin ini jadi syarat utama sebelum negosiasi nuklir bisa dimulai.
Iran menyebut negosiasi tambahan satu bulan soal nuklir baru bisa berjalan jika kesepakatan awal tercapai. Teheran ingin kejelasan cepat sebelum membuka meja perundingan yang lebih kompleks.
AS belum terima proposal, Iran sudah pasang tenggat waktu, dan ancaman militer Trump masih menggantung. Kedua pihak kini berada di persimpangan yang makin kritis.