JAKARTA, Cobisnis.com - Komandan senior Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Ali Fadavi, mengklaim kapal perang Amerika Serikat telah mundur lebih dari 1.000 kilometer dari perbatasan Iran.
Pernyataan tersebut disampaikan Fadavi dalam wawancara dengan televisi Iran pada Senin (5/10/2026), di tengah ketegangan antara Washington dan Teheran terkait kendali atas Selat Hormuz. Klaim serupa juga dilaporkan sejumlah media internasional.
“Orang-orang Amerika melarikan diri dan pindah lebih dari 1.000 km dari perbatasan kita. Ini bukan pilihan mereka; ini disebabkan oleh otoritas Republik Islam dan otoritas Pasukan Darat IRGC,” kata Fadavi, dikutip dari berbagai sumber, Selasa (6/10/2026).
Fadavi mengeklaim tidak ada kapal Amerika Serikat yang tersisa di Teluk Persia, Selat Hormuz, Laut Oman, maupun bagian utara Samudra Hindia.
Ia juga menyebut kapal perang AS sangat rentan terhadap serangan Iran dan menegaskan Selat Hormuz tetap berada di bawah kendali Teheran. Pernyataan mengenai absennya kapal AS di sejumlah perairan tersebut juga dimuat oleh IRNA dan sejumlah media internasional.
Fadavi memperingatkan kapal-kapal yang menggunakan jalur selatan yang diawasi Amerika Serikat dapat menjadi sasaran jika ketegangan terus meningkat.
Di tengah situasi tersebut, badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris sebelumnya melaporkan sebuah kapal tanker di dekat Oman mematuhi instruksi IRGC untuk berbalik arah atau menghadapi risiko serangan.
Sementara itu, Amerika Serikat masih memberlakukan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan menyatakan telah mengalihkan sejumlah kapal komersial untuk memastikan kepatuhan.
Ketegangan juga berlangsung bersamaan dengan upaya diplomasi tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz. Iran menyatakan jalur tersebut tidak akan dibuka sampai sejumlah persyaratan yang diajukan Teheran dipenuhi.
Proposal Iran sebelumnya menawarkan pemulihan jalur pelayaran dan dimulainya kembali negosiasi nuklir sebagai bagian dari kesepakatan yang juga mencakup pencabutan blokade, pelonggaran pembatasan ekspor minyak Iran, serta pembebasan aset yang dibekukan.
Namun, Presiden AS Donald Trump menolak persyaratan tersebut dan mengancam akan mengambil tindakan lebih keras jika pembicaraan gagal.
Situasi di Selat Hormuz menjadi perhatian besar karena jalur tersebut merupakan salah satu titik penting bagi perdagangan energi dunia, sementara gangguan berkepanjangan telah memengaruhi arus minyak dan meningkatkan tekanan terhadap pasar energi global.