Jangan Dibuang, Ampas Kopi Ternyata Bisa Diolah Menjadi Biochar Berenergi Tinggi

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 19 Jul 2026, 06:52 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Ampas kopi yang selama ini lebih sering menjadi limbah ternyata memiliki potensi besar sebagai sumber energi terbarukan. Penelitian terbaru menunjukkan limbah kopi basah dapat diubah menjadi bahan bakar padat hanya dalam waktu sekitar 90 detik.

Penelitian tersebut dilakukan oleh Korea Institute of Geoscience and Mineral Resources, KIGAM. Hasil riset dipublikasikan dalam jurnal Chemical Engineering dengan memanfaatkan teknologi flame plasma pyrolysis.

Teknologi ini memungkinkan ampas kopi basah langsung diproses tanpa melalui tahap pengeringan. Proses berlangsung menggunakan suhu sekitar 800 hingga 900 derajat Celsius dengan nyala plasma.

Selama proses berlangsung, kadar air dalam ampas kopi menguap sangat cepat. Peneliti menggambarkan proses tersebut menghasilkan efek menyerupai popcorn sebelum berubah menjadi biochar.

Biochar merupakan material padat kaya karbon yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar. Material ini memiliki nilai kalor sekitar 29 megajoule per kilogram.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kayu yang umumnya memiliki nilai kalor sekitar 15 hingga 20 megajoule per kilogram. Artinya, biochar dari ampas kopi mampu menghasilkan energi yang lebih besar.

Selain memiliki nilai energi tinggi, biochar juga menghasilkan emisi yang lebih bersih. Proses pembuatannya mampu mengurangi senyawa sulfur sehingga asap dan tar yang dihasilkan jauh lebih sedikit.

Temuan ini dinilai membuka peluang baru dalam pemanfaatan limbah organik. Selain mengurangi sampah, teknologi tersebut juga dapat mendukung pengembangan energi ramah lingkungan.

Para peneliti mencatat dunia menghasilkan lebih dari 10 juta ton ampas kopi setiap tahun. Sebagian besar limbah tersebut masih berakhir di tempat pembuangan sampah atau dibakar begitu saja.

Meski menjanjikan, para ilmuwan menilai ampas kopi belum dapat menjadi solusi utama kebutuhan energi global. Namun, inovasi ini dinilai mampu menjadi salah satu alternatif energi terbarukan yang lebih berkelanjutan di masa depan.