Konflik AS Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Bertahan di Atas 84 Dollar AS per Barrel

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 18 Jul 2026, 19:46 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com, Harga minyak dunia masih bergerak stabil meski konflik antara Amerika Serikat dan Iran terus memanas. Pelaku pasar tetap mewaspadai potensi gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka naik 0,08 persen menjadi 84,30 dollar AS per barrel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI menguat 0,2 persen menjadi 79,11 dollar AS per barrel.

Meski pergerakan harga relatif tenang, risiko kenaikan harga masih terbuka. Ketegangan geopolitik dinilai dapat memicu gangguan distribusi minyak dalam waktu dekat.

Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer, mengatakan ancaman terhadap jalur pelayaran di Laut Merah menjadi salah satu faktor yang terus diperhatikan pasar. Gangguan pasokan dari kawasan tersebut berpotensi memperumit prospek minyak global.

Di lapangan, konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran masih berlangsung. Kedua negara terus melancarkan serangan balasan dalam beberapa hari terakhir.

Serangan udara Amerika Serikat dilaporkan menyasar sejumlah infrastruktur penting di Iran selatan. Media Al Jazeera melaporkan salah satu serangan memutus pasokan air ke beberapa kota di Provinsi Hormozgan.

Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait, Bahrain, dan Yordania. Teheran menilai aksi militer Washington justru menghambat peluang tercapainya perundingan damai.

Pemerintah Amerika Serikat menyatakan operasi militer dilakukan untuk menjaga keamanan jalur pelayaran internasional. Wilayah Teluk dan Laut Merah menjadi fokus utama karena menjadi jalur penting perdagangan energi dunia.

Perhatian pasar juga tertuju pada Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur ekspor minyak paling vital di dunia. Gangguan di kawasan tersebut dapat berdampak langsung terhadap pasokan minyak global.

Seorang pejabat Iran yang dikutip Iran International menyebut Amerika Serikat diduga telah menyiapkan target serangan tambahan. Salah satu lokasi yang terdampak adalah menara pengawasan maritim di Chabahar yang berfungsi memantau aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.

Komando Pusat Amerika Serikat di Timur Tengah atau US CENTCOM menegaskan operasi militer akan terus berlanjut. Washington menyatakan langkah tersebut dilakukan untuk menekan Iran kembali ke meja perundingan.