Kotak Ahwa Muktamar NU Tak Berkunci, Dibuka dengan Cara Ini

Oleh Hidayat Taufik pada 29 Aug 2026, 16:02 WIB

​JAKARTA, Cobisnis.com — Berkas berisi nama-nama kiai yang diusulkan menjadi anggota Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) pada Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) disimpan dengan pengamanan ketat di kawasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

Berkas tersebut ditempatkan di dalam sejumlah kotak kaca yang berada di sebuah ruangan khusus.

Lokasi penyimpanan dilengkapi kamera pengawas atau CCTV dan dijaga petugas keamanan secara bergantian selama 24 jam.

Ahwa merupakan forum yang beranggotakan sembilan ulama atau kiai sepuh terpilih.

Forum tersebut memiliki tugas penting, salah satunya menentukan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Pantauan di lokasi menunjukkan sedikitnya enam kotak kaca berada di dalam ruangan yang terletak di depan rumah KH Abdul Rozaq Sholeh atau Gus Rozaq, Ketua Umum Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.

Sebanyak 15 anggota Satuan Inspeksi Tanggap Pengamanan (Sigap) Pondok Pesantren Bahrul Ulum ditugaskan untuk melakukan penjagaan secara bergantian.

Rais Syuriah PBNU sekaligus Sekretaris Steering Committee (SC) Muktamar ke-35 NU, Mohammad Nuh, menjelaskan bahwa nama-nama calon anggota Ahwa telah disampaikan oleh Pengurus Wilayah NU (PWNU), Pengurus Cabang NU (PCNU), serta Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU).

Usulan tersebut berasal dari hasil musyawarah masing-masing wilayah dan cabang sebelum para peserta berangkat menuju lokasi Muktamar NU.

"Nah, dari situlah pada saat beliau mendaftar registrasi kemarin, langsung dimasukkan usulannya itu," kata Nuh, dikutip dari berbagai sumber, Sabtu (29/8/26).

Nuh menegaskan seluruh berkas tersebut belum dapat dibuka sebelum memasuki tahapan yang telah ditentukan dalam agenda muktamar.

"Tapi ini kan belum boleh dibuka. Nah, demi keamanan, transparansi, dan seterusnya, tentu ini disimpan di tempat yang aman, yang ndak ada kecurigaan," katanya.

Menurut Nuh, kotak penyimpanan sengaja tidak menggunakan kunci. Pembukaan kotak nantinya dilakukan dengan cara membongkar atau merusaknya ketika waktunya tiba.

"Kotaknya pun juga tidak pakai kunci. Ya, karena kalau kunci nanti dipikir, 'sampeyan pegang kunci, nanti kuncinya sampeyan buka' dan seterusnya. Tidak ada kuncinya. Sehingga nanti bukanya dirusak, dijebol gitu," tuturnya.

Pemilihan lokasi penyimpanan juga mempertimbangkan aspek keterbukaan. Ruangan kaca tersebut memungkinkan kondisi kotak terlihat dari luar sehingga dapat dipantau oleh masyarakat maupun pihak terkait.

"Ditempatkan di tempat yang depannya Gus Rozak, di situ ada ruang kaca sehingga siapapun bisa melihat, dijaga, dan ada CCTV-nya. Sehingga dipastikan aman," katanya.

Nuh menyebut pengamanan berkas Ahwa menjadi perhatian penting karena forum tersebut memiliki kewenangan dalam menentukan Rais Aam PBNU.

"Karena Ahwa ini yang memilih Rais Aam. Ya, dari Ahwa itu yang akan memilih Rais Aam, dan Rais Aam nanti akan memberikan restu ketua umum," ujarnya.

Ia menilai seluruh tahapan pemilihan Ahwa perlu dijaga secara ketat karena mekanisme tersebut berkaitan dengan proses penentuan kepemimpinan NU periode mendatang.

Berkas usulan tersebut akan dibuka dan dihitung menjelang pelaksanaan Sidang Pleno yang membahas penetapan anggota Ahwa.

Dalam mekanisme Muktamar NU, setiap PWNU, PCNU, dan PCINU mengajukan sembilan nama ulama yang dianggap memenuhi kriteria untuk menjadi anggota Ahwa.

Seluruh nama yang masuk kemudian dikumpulkan dan dilakukan tabulasi berdasarkan jumlah suara yang diperoleh.

Sembilan ulama dengan suara terbanyak akan ditetapkan sebagai anggota Ahwa. Mereka selanjutnya bermusyawarah untuk menentukan Rais Aam PBNU periode 2026-2031.