Kucing Oren Lebih Barbar dari Kucing Putih?

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 18 Sep 2026, 11:06 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Anggapan kucing oren lebih nakal atau barbar, sementara kucing putih cenderung kalem dan pemalas, ternyata tidak memiliki dasar ilmiah. Warna bulu tidak menentukan karakter atau kepribadian seekor kucing.

Dosen Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, Leni Maylina, menyebut anggapan tersebut hanya mitos. Menurutnya, karakter kucing tidak ditentukan oleh warna tubuh.

"Karakter kucing tidak ditentukan oleh warna tubuh mereka sehingga ini adalah mitos," kata Leni.

Mitos mengenai sifat kucing berdasarkan warna bulu biasanya muncul dari stereotip atau pengalaman pribadi. Pengalaman terhadap satu atau beberapa kucing kemudian dianggap berlaku untuk semua kucing dengan warna serupa.

Kucing yang aktif dan sering melakukan hal yang dianggap nakal, misalnya, bisa saja memiliki energi lebih tinggi atau kepribadian yang lebih dominan. Kondisi tersebut lebih berkaitan dengan karakter individu daripada warna bulunya.

Menurut Leni, kepribadian kucing lebih dipengaruhi faktor genetik, pengalaman awal kehidupan saat bersosialisasi dengan manusia, serta lingkungan tempat mereka tumbuh. Karena itu, dua kucing dengan warna sama bisa memiliki karakter yang berbeda.

Kucing yang sejak kecil mendapat kasih sayang dan perhatian yang cukup, misalnya, cenderung memiliki kepribadian lebih ramah. Kondisi tersebut dapat terjadi tanpa bergantung pada warna bulunya.

Faktor ras juga dapat berkaitan dengan karakter tertentu. Beberapa ras memiliki kecenderungan perilaku khas, seperti kucing Siamese yang dikenal lebih vokal dan aktif.

Lingkungan tempat tumbuh turut memengaruhi perilaku kucing. Karena itu, kucing putih maupun kucing oren dapat menunjukkan karakter yang sangat beragam.

"Kucing berwarna putih atau orange bisa memiliki karakter yang sangat beragam, tergantung pada bagaimana mereka dibesarkan dan pengalaman mereka dalam interaksi dengan manusia atau hewan lainnya," ujar Leni.

Untuk mengenali karakter kucing, pemilik dapat memperhatikan perilaku dan bahasa tubuhnya. Ekspresi wajah, posisi tubuh, gerakan ekor, suara, serta perilaku fisik dapat memberikan gambaran mengenai kondisi dan suasana hati kucing.

Kucing yang merasa nyaman biasanya menunjukkan ekspresi wajah rileks dan mata yang sedikit terbuka. Sementara kucing yang takut atau terancam dapat menunjukkan wajah lebih tegang dan membuka mata lebih lebar.

Posisi tubuh dan ekor juga dapat menjadi petunjuk. Tubuh tegak dengan ekor terangkat biasanya menunjukkan rasa percaya diri, sedangkan tubuh membungkuk atau ekor ditekuk di antara kaki dapat menjadi tanda takut atau cemas.

Kebiasaan mengeong, menggigit, mencakar, tidur, atau bersantai juga tidak bisa langsung dijadikan patokan karakter. Perilaku tersebut dapat dipengaruhi berbagai kondisi, mulai dari keinginan berinteraksi hingga rasa ingin tahu dan situasi lingkungan.

Dengan demikian, warna bulu bukan patokan untuk menentukan sifat kucing. Pemilik perlu melihat perilaku, bahasa tubuh, pengalaman, serta lingkungan tempat kucing tumbuh untuk memahami kepribadiannya.