JAKARTA, Cobisnis.com - Kekayaan pribadi masyarakat dunia meningkat tajam sepanjang 2025 meski perekonomian global masih dibayangi berbagai ketidakpastian. Laporan UBS Global Wealth Report 2026 mencatat total kekayaan global tumbuh 10,8 persen dalam denominasi dolar Amerika Serikat, jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada 2024 sebesar 4,6 persen dan 2023 sebesar 4,2 persen.
Lonjakan tersebut ikut melahirkan lebih dari satu juta jutawan baru di seluruh dunia. Rata-rata, sekitar 2.600 orang setiap hari masuk dalam kategori jutawan sepanjang tahun lalu.
UBS menilai penguatan pasar keuangan menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan kekayaan global. Namun, peningkatan tersebut belum dinikmati secara merata karena kesenjangan antara kelompok kaya dan masyarakat kelas menengah ke bawah masih semakin lebar.
Laporan itu juga menunjukkan lebih dari separuh total kekayaan pribadi dunia masih terkonsentrasi di Amerika Serikat dan China. Kedua negara tersebut tetap menjadi pusat akumulasi kekayaan terbesar di dunia.
Berdasarkan rata-rata kekayaan per orang dewasa, Swiss kembali menjadi negara dengan warga paling kaya di dunia dengan nilai mencapai 910.382 dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp15 miliar. Posisi berikutnya ditempati Amerika Serikat dengan rata-rata 696.277 dolar Amerika Serikat dan Luksemburg sebesar 654.732 dolar Amerika Serikat.
Hong Kong, Australia, dan Singapura juga masuk dalam jajaran negara dengan rata-rata kekayaan tertinggi. Singapura menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang berhasil menembus daftar 30 besar dunia.
Di kawasan Asia, Korea Selatan mencatat pertumbuhan kekayaan paling impresif. Sejak 2020, rata-rata kekayaan riil per orang dewasa di negara tersebut meningkat lebih dari 50 persen.
UBS menegaskan angka tersebut merupakan rata-rata kekayaan bersih per orang dewasa, bukan pendapatan tahunan. Perhitungan mencakup seluruh aset seperti rumah, tanah, tabungan, saham, dan investasi lainnya setelah dikurangi utang.
Amerika Serikat juga menjadi penyumbang jutawan baru terbanyak sepanjang 2025 dengan tambahan lebih dari 440.000 orang. Setelah itu disusul China, Jepang, Jerman, Inggris, dan Prancis yang masing-masing kini memiliki lebih dari dua juta jutawan.