JAKARTA, Cobisnis.com – Makanan yang dihinggapi lalat kerap dianggap tidak layak dikonsumsi. Namun, para ahli menjelaskan bahwa tingkat risikonya bergantung pada seberapa lama lalat hinggap dan kondisi makanan tersebut.
Apabila hanya seekor lalat yang hinggap selama beberapa detik pada makanan yang baru dimasak, risikonya dinilai relatif kecil, terutama bagi orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik. Meski demikian, bukan berarti makanan tersebut sepenuhnya bebas dari potensi kontaminasi.
Lalat rumah dikenal sering berpindah dari lingkungan yang kotor, seperti tempat sampah, limbah, kotoran hewan, hingga bahan organik yang membusuk. Saat mencari makan, serangga ini mengeluarkan cairan pencernaan untuk melarutkan makanan sebelum mengisapnya. Proses tersebut dapat menjadi media perpindahan mikroorganisme ke makanan.
Berbagai penelitian menunjukkan lalat dapat membawa bakteri berbahaya, di antaranya Salmonella, E. coli, Staphylococcus aureus, dan Bacillus cereus. Bakteri tersebut berpotensi menyebabkan keracunan makanan dengan gejala seperti mual, muntah, diare, nyeri perut, hingga demam.
Meski begitu, tidak semua makanan yang dihinggapi lalat otomatis menyebabkan penyakit. Besarnya risiko dipengaruhi oleh jumlah bakteri yang berpindah, lamanya lalat bersentuhan dengan makanan, serta kondisi kesehatan orang yang mengonsumsinya.
Para pakar menyarankan makanan sebaiknya tidak dikonsumsi jika telah dikerubungi banyak lalat atau dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang. Dalam kondisi seperti itu, peluang makanan terkontaminasi kuman menjadi lebih besar.
Jika ada keraguan terhadap kebersihan atau keamanan makanan, langkah paling bijak adalah membuangnya dan memilih makanan yang lebih higienis untuk menghindari risiko gangguan kesehatan.