JAKARTA, Cobisnis.com – Istilah cortisol face belakangan ramai diperbincangkan di media sosial untuk menggambarkan wajah yang tampak lebih bulat, sembap, atau bengkak akibat tingginya kadar hormon kortisol. Meski populer, cortisol face bukan merupakan diagnosis medis resmi, melainkan istilah yang digunakan untuk menjelaskan perubahan penampilan wajah yang dikaitkan dengan kadar kortisol berlebih.
Kortisol sendiri merupakan hormon yang diproduksi kelenjar adrenal dan berperan penting dalam mengatur respons tubuh terhadap stres, metabolisme, hingga tekanan darah. Dalam kondisi tertentu, kadar kortisol yang tinggi dalam waktu lama dapat menyebabkan penumpukan lemak dan cairan pada wajah sehingga terlihat lebih bulat atau membengkak.
Para ahli menjelaskan bahwa stres sehari-hari umumnya tidak cukup untuk menyebabkan perubahan wajah yang drastis. Kondisi seperti sindrom Cushing atau penggunaan obat kortikosteroid jangka panjang lebih sering menjadi penyebab utama munculnya gejala yang dikenal sebagai moon face atau cortisol face.
Selain wajah membulat, kadar kortisol yang terlalu tinggi juga dapat disertai gejala lain. Di antaranya penumpukan lemak di area leher, jerawat, kulit yang lebih tipis, mudah memar, hingga kenaikan berat badan pada bagian tubuh tertentu.
Meski demikian, wajah sembap tidak selalu berkaitan dengan hormon kortisol. Kurang tidur, konsumsi makanan tinggi garam, dehidrasi, alergi, hingga kondisi medis tertentu juga dapat menyebabkan pembengkakan pada wajah.
Jika pembengkakan wajah diduga berkaitan dengan stres, menjaga pola hidup sehat dapat membantu mengurangi keluhan. Tidur yang cukup, olahraga rutin, mengelola stres, mengonsumsi makanan bergizi, dan menjaga asupan cairan merupakan langkah yang disarankan untuk mendukung keseimbangan hormon.
Apabila wajah tetap membengkak dalam waktu lama atau disertai gejala lain yang mengganggu, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan apakah keluhan tersebut berkaitan dengan gangguan hormon, penggunaan obat, atau kondisi kesehatan lainnya.
Dengan demikian, cortisol face bukan sekadar tren di media sosial, tetapi juga dapat menjadi tanda adanya kondisi medis tertentu pada sebagian orang. Memahami penyebab sebenarnya akan membantu menentukan penanganan yang tepat sekaligus menghindari kesalahpahaman mengenai hubungan antara stres dan perubahan bentuk wajah.