Jamkrindo

Mengenal Virus Nipah: Asal Usul, Penularan, Gejala dan Upaya Pencegahan

Oleh Desti Dwi Natasya pada 29 Jan 2026, 07:25 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Virus Nipah kembali menjadi perhatian publik setelah dilaporkan adanya lima kasus positif serta hampir 100 orang yang harus menjalani karantina di wilayah Benggala Barat, India, pada pekan lalu. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di berbagai negara. Lantas, apa sebenarnya virus Nipah, bagaimana cara penularannya, gejala yang ditimbulkan, serta langkah pencegahannya?

Berikut penjelasan mengenai virus Nipah yang dirangkum dari keterangan resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Apa Itu Virus Nipah?

Virus Nipah pertama kali ditemukan pada 1998–1999 di Malaysia, tepatnya di sebuah peternakan babi. Saat itu, hewan ternak menunjukkan gejala demam tinggi, gangguan pernapasan, hingga kejang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kemudian mengungkap bahwa virus Nipah berasal dari kelelawar buah yang menularkannya kepada babi.

Kelelawar buah diketahui sebagai reservoir alami virus Nipah. Artinya, virus tersebut dapat hidup di dalam tubuh kelelawar tanpa menimbulkan penyakit, namun dapat berpindah ke hewan lain seperti babi, lalu menginfeksi manusia.

Aktivitas penebangan hutan yang masif turut memperbesar risiko penularan. Hilangnya habitat alami membuat kelelawar berpindah ke area pemukiman dan peternakan, sehingga meningkatkan peluang penyebaran virus dari hewan ke manusia.

Cara Penularan Virus Nipah

Berdasarkan keterangan Kemenkes, virus Nipah termasuk dalam kelompok Paramyxovirus, yaitu virus RNA yang juga berkaitan dengan penyakit lain seperti campak, gondongan, dan pneumonia. Namun, virus Nipah memiliki karakteristik khusus yang menjadikannya sangat berbahaya.

Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh hewan yang terinfeksi, seperti air liur, darah, dan urine. Selain itu, konsumsi daging hewan yang terinfeksi—terutama jika tidak dimasak hingga matang—juga berpotensi menularkan virus.

Virus Nipah juga dapat menyebar antarmanusia melalui kontak langsung dengan penderita, khususnya saat pasien mengeluarkan banyak cairan tubuh, seperti air liur.

Gejala Infeksi Virus Nipah

Masa inkubasi virus Nipah berkisar antara 4 hingga 14 hari setelah seseorang terinfeksi. Gejala yang muncul dapat bervariasi, mulai dari ringan hingga berat dan berpotensi mengancam jiwa.

Beberapa gejala yang umum muncul antara lain:

Demam

Sakit kepala

Batuk

Sakit tenggorokan

Nyeri otot

Sesak napas

Muntah

Sulit menelan

Pada kondisi tertentu, infeksi virus Nipah dapat berkembang menjadi ensefalitis atau peradangan otak. Gejala ensefalitis meliputi rasa kantuk berlebihan, gangguan konsentrasi, disorientasi, serta perubahan suasana hati. Pada kasus berat, infeksi ini dapat berujung pada kematian.

Langkah Pencegahan Virus Nipah

Upaya pencegahan sangat penting untuk melindungi diri, keluarga, dan lingkungan sekitar dari risiko penularan virus Nipah. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

Menghindari kontak langsung dengan hewan berisiko, terutama kelelawar dan babi.

Mencuci buah dan sayuran secara menyeluruh sebelum dikonsumsi.

Menghindari makanan yang berpotensi terkontaminasi oleh hewan.

Menggunakan alat pelindung diri seperti sarung tangan, sepatu bot, dan pelindung wajah saat membersihkan kotoran atau urine hewan.

Rutin mencuci tangan dengan sabun dan air bersih, terutama setelah berinteraksi dengan hewan atau orang sakit.

Memastikan daging hewan dimasak hingga benar-benar matang dan tidak mengonsumsi daging mentah.

Meski hingga kini belum ada laporan kasus virus Nipah di Indonesia, masyarakat tetap diimbau untuk waspada, menjaga kebersihan, serta menerapkan langkah-langkah pencegahan guna meminimalkan risiko penularan.