JAKARTA, Cobisnis.com – Menteri Pemuda dan Olahraga Ukraina, Matviy Bidnyi, mengatakan bahwa masih “terlalu dini” untuk membicarakan kemungkinan atlet Rusia dan Belarusia kembali bertanding di bawah bendera negara mereka pada Olimpiade Musim Dingin tahun depan, sementara pembicaraan damai untuk mengakhiri perang di Ukraina masih berlangsung.
Saat ini, atlet yang memegang paspor Rusia dan Belarusia hanya dapat bertanding sebagai atlet netral individu (AIN), dengan setiap kasus ditinjau untuk memastikan tidak ada dukungan sebelumnya terhadap perang.
Sementara itu, tim nasional Rusia dan Belarusia termasuk hoki es tetap dilarang sepenuhnya, dan simbol negara seperti bendera tidak diperbolehkan tampil di area Olimpiade.
Namun, dengan adanya perkembangan baru terkait proposal perdamaian antara Ukraina dan Rusia, kemungkinan tercapainya kesepakatan sebelum Olimpiade Milan-Cortina dimulai pada 6 Februari kini dianggap lebih terbuka, sehingga memunculkan pertanyaan apakah atlet yang saat ini ditangguhkan dapat kembali bertanding untuk negaranya.
Bidnyi menegaskan bahwa pembicaraan tersebut masih terlalu awal. Ukraina, katanya, berada dalam kondisi sulit dalam mempersiapkan atlet akibat perang, termasuk hilangnya banyak pelatih dan atlet. “Kami masih jauh dari posisi final di mana kami bisa mengatakan bahwa keadilan telah tercapai,” ujarnya.
Sebelumnya, muncul optimisme dari pemerintahan Trump bahwa kesepakatan damai sudah dekat, namun sumber Ukraina mengatakan masih ada setidaknya tiga poin penting yang belum disepakati.
800 fasilitas olahraga rusak
Selama perang berlanjut, kemampuan Ukraina mempersiapkan diri untuk kompetisi internasional besar seperti Olimpiade Musim Dingin terus terganggu. Menurut Kementerian Olahraga Ukraina, 800 fasilitas olahraga kini telah rusak sejak invasi besar-besaran 2022 meningkat dari lebih dari 500 fasilitas yang dilaporkan pada Juli 2024.
Sebagian besar atlet Ukraina kini harus berlatih di luar negeri. Bidnyi mengatakan 18 atlet telah lolos kualifikasi, namun berharap totalnya dapat mencapai 40 atlet saat kompetisi dimulai di Italia.
Kerusakan infrastruktur, kebutuhan listrik besar untuk fasilitas es, hingga serangan yang terus terjadi membuat situasi semakin berat. Bidnyi menjelaskan bahwa generator kini terdengar di mana-mana di Kyiv karena masalah listrik akibat serangan Rusia.
Meski Komite Olimpiade Internasional (IOC) masih mempertahankan larangan atlet Rusia dan Belarusia tampil di bawah bendera negara mereka, Komite Paralimpiade Internasional (IPC) justru mencabut larangan tersebut untuk Paralimpiade Musim Dingin. Federasi olahraga internasional pun bebas menentukan apakah mereka akan menerima atlet dari kedua negara itu atau tidak.
Bidnyi menyebut keputusan IPC “aneh” dan mendesak organisasi olahraga internasional untuk tetap mendukung Ukraina dengan tidak memberi ruang bagi atlet Rusia dan Belarusia. Ia menegaskan bahwa penghentian tembakan yang kuat dan nyata di lapangan harus terjadi terlebih dahulu, disertai dukungan dana bagi Ukraina untuk proses pemulihan.
Ia juga menegaskan bahwa perang bukanlah isu politik. “Perang adalah kejahatan. Jika Anda melakukan kejahatan, Anda tidak bisa diberi panggung internasional,” tegasnya.
Bagi Ukraina, Olimpiade Musim Dingin adalah kesempatan menunjukkan ketangguhan. Sama seperti tim sepak bola nasional Ukraina yang masih berpeluang lolos ke Piala Dunia, para atlet yang akan bertanding membawa harapan bagi rakyat yang terus menghadapi ketidakpastian.
Pada Olimpiade Musim Dingin sebelumnya, Ukraina meraih satu medali lewat Oleksandr Abramenko yang meraih perak dalam nomor aerial putra.
“Ini adalah kesempatan untuk menunjukkan kekuatan kami sebagai bangsa,” ujar Bidnyi. Ia menambahkan bahwa tampil di panggung olahraga internasional adalah simbol ketahanan, tekad, dan nilai-nilai yang diperjuangkan Ukraina.