Jamkrindo

‘Mereka Merusak Itu Untuk Saya’: Bagaimana Kecanduan Judi Olahraga Dan Pemulihan Mengubah Hubungan Pria Dengan Keluarga, Teman, Dan Fandom

Oleh Zahra Zahwa pada 02 Feb 2026, 15:52 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Siapa yang tidak ingin menikmati olahraga sebagai hiburan murni? Namun bagi sebagian pria, maraknya judi olahraga justru mengubah kecintaan terhadap tim favorit menjadi sumber kecanduan, kebohongan, dan keretakan hubungan sosial. Kisah-kisah nyata ini menunjukkan bagaimana legalisasi dan promosi besar-besaran judi olahraga berdampak pada ikatan keluarga, persahabatan, hingga identitas sebagai penggemar olahraga.

Shane seharusnya merayakan Hari Paskah bersama keluarganya di Westchester, New York, pada 2022. Namun, ia memilih duduk sendirian di Citi Field dalam cuaca dingin, menyaksikan laga New York Mets sambil mempertaruhkan US$25.000. Enam bulan sebelumnya, ia bahkan belum pernah berjudi sama sekali. Legalitas taruhan olahraga online di New York membuatnya terpapar iklan agresif dan promosi menggiurkan, hingga akhirnya terjerumus dalam kecanduan.

“Awalnya terasa seperti cara untuk lebih dekat dengan Mets,” kata Shane. “Saya tidak sadar itu bisa menjadi kecanduan.”

Kebohongan demi kebohongan muncul, hingga akhirnya ia mencari perawatan dan mencoba berhenti berjudi. Namun, relaps tetap terjadi, bahkan lintas negara bagian demi bisa kembali bertaruh. Kini, demi pemulihan, ayahnya mengelola seluruh keuangannya. Meski perlahan pulih, hubungan Shane dengan olahraga tak lagi sama.

Kisah serupa dialami Ely dan Matt. Ely kehilangan tabungan, memaksimalkan kartu kredit, dan baru menyadari kecanduannya setelah benar-benar kehabisan uang. Matt, yang awalnya hanya “iseng”, kehilangan hingga US$60.000 dalam satu pertandingan NFL. Judi mengubah cara mereka berbicara tentang olahraga, menjadikan skor dan statistik taruhan lebih penting daripada permainan itu sendiri.

Legalitas judi olahraga sejak 2018 memang membawa pemasukan besar bagi negara bagian. New York, misalnya, mencatat lebih dari US$2 miliar pendapatan kotor judi pada tahun fiskal 2025. Namun, survei Pew Research Center menunjukkan peningkatan signifikan persepsi negatif masyarakat terhadap judi olahraga, terutama di kalangan pria muda.

Menurut National Council on Problem Gambling (NCPG), sekitar 8% orang dewasa Amerika mengalami indikasi perilaku judi bermasalah. Faktor risiko terbesar meliputi judi online, taruhan olahraga, usia muda, dan jenis kelamin pria.

Meski operator besar seperti FanDuel dan DraftKings mengklaim telah menerapkan fitur “responsible gaming”, para mantan pecandu menilai paparan iklan dan budaya taruhan yang menyatu dengan siaran olahraga membuat pemulihan semakin sulit. “Anda tidak bisa menonton pertandingan tanpa diingatkan pada judi,” kata Nick Goerg, mantan penjudi yang kini membangun aplikasi ulasan pertandingan tanpa unsur taruhan.

Pada akhirnya, banyak dari mereka tidak ingin meninggalkan olahraga. Mereka hanya ingin kembali menikmati pertandingan sebagai hiburan, bukan sumber kecemasan. Namun, di tengah promosi judi yang semakin masif, harapan itu terasa kian sulit diwujudkan.