JAKARTA, Cobisnis.com – Serangan udara kembali dilancarkan militer Israel di wilayah Lebanon. Kali ini, sebuah kendaraan menjadi sasaran di kawasan dekat perbatasan Lebanon–Suriah pada Senin (16/2/2026) dini hari.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya empat orang tewas akibat serangan tersebut. Otoritas setempat menyebutkan serangan terjadi pada pagi buta dan langsung menimbulkan korban jiwa di lokasi kejadian.
Militer Israel mengonfirmasi adanya operasi tersebut. Dalam keterangannya, Israel mengklaim target serangan adalah anggota kelompok Palestinian Islamic Jihad (PIJ) yang berada di wilayah Lebanon. Namun, tidak ada bukti rinci yang disampaikan untuk mendukung klaim tersebut. Hingga kini, PIJ belum memberikan pernyataan resmi.
Media internasional melaporkan serangan berlangsung di wilayah Majdal Anjar, sebuah area yang terletak tidak jauh dari garis perbatasan dengan Suriah. PIJ sendiri dikenal sebagai kelompok bersenjata Palestina yang kerap terlibat konflik dengan Israel dan memiliki kedekatan dengan kelompok Lebanon, Hezbollah.
Sejak perang di Gaza memanas, Hezbollah juga aktif melancarkan serangan ke wilayah utara Israel sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina. Padahal, Israel dan Hezbollah telah menyepakati gencatan senjata pada November 2024. Meski demikian, serangan lintas batas masih terus terjadi.
Data Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat lebih dari 10.000 serangan udara dan darat dilakukan Israel sejak kesepakatan penghentian permusuhan diberlakukan. Kantor HAM PBB pada November lalu juga menyebut sedikitnya 108 warga sipil telah terverifikasi tewas akibat serangan sejak gencatan senjata, termasuk perempuan dan anak-anak.
Selain korban jiwa, laporan PBB juga menyebut adanya warga sipil Lebanon yang ditahan oleh pasukan Israel dalam periode tersebut.
Pemerintah Lebanon bulan lalu secara resmi melayangkan pengaduan ke PBB terkait dugaan pelanggaran berulang yang dilakukan Israel. Dalam dokumen itu, Lebanon menuding Israel telah melanggar kedaulatannya lebih dari 2.000 kali dalam tiga bulan terakhir 2025.
Situasi semakin rumit karena Israel dilaporkan masih mempertahankan kehadiran militernya di lima titik wilayah Lebanon. Kondisi ini dinilai menghambat pemulihan kawasan perbatasan serta menghalangi ribuan warga yang mengungsi untuk kembali ke rumah mereka.
Ketegangan di kawasan perbatasan dua negara Arab tersebut pun kembali meningkat di tengah belum stabilnya situasi keamanan regional.