JAKARTA, Cobisnis.com - Kenaikan harga minyak dunia menjadi perhatian Menteri Perdagangan Budi Santoso karena dapat meningkatkan tekanan terhadap neraca perdagangan Indonesia.
Harga minyak mentah Brent sempat berada di level US$104,68 per barel pada perdagangan Senin, 21 September 2026. Namun, harga kemudian melemah dan kontrak Brent November ditutup di level US$100,34 per barel.
Budi mengatakan pemerintah perlu menjaga agar kenaikan defisit sektor minyak dan gas tidak menggerus surplus dari sektor nonmigas. Karena itu, peningkatan ekspor menjadi salah satu upaya yang terus didorong.
"Memang kemarin sempat harga minyak naik lagi seperti pada bulan April-Mei kalau nggak salah. Ya, harapan kita, yang kita lakukan adalah bagaimana ekspor kita terus meningkat, karena jangan sampai defisit minyak ini nanti mempengaruhi surplusnya nonmigas," ujar Budi di Jakarta, Selasa, 22 September 2026.
Budi juga berharap defisit sektor migas tidak terlalu besar hingga membuat neraca perdagangan Indonesia kembali berada di zona defisit. Menurutnya, surplus perdagangan perlu terus diperkuat agar mampu menghadapi tekanan dari sektor migas.
"Jadi yang migas jangan terlalu besar defisitnya, sehingga surplus ini bisa kita tingkatkan. Tapi kita tingkatkan terus ya, karena kalau misalnya peningkatan surplusnya nggak signifikan, ya takutnya nanti defisit lagi," katanya.
Data BPS menunjukkan neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026 masih mencatat surplus US$121,9 juta. Secara kumulatif Januari hingga Juli 2026, surplus mencapai US$3,70 miliar, dengan sektor nonmigas surplus US$22,45 miliar dan sektor migas defisit US$18,75 miliar.
Kondisi tersebut membuat kinerja ekspor nonmigas menjadi salah satu penopang penting neraca perdagangan. BPS mencatat ekspor Indonesia sepanjang Januari hingga Juli 2026 mencapai US$167,03 miliar, naik 4,43% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Untuk mendorong ekspor, Kementerian Perdagangan menyiapkan Trade Expo Indonesia yang akan berlangsung pada 14 hingga 18 Oktober 2026. Budi menyebut minat buyer terhadap ajang tersebut cukup tinggi.
Hingga September 2026, lebih dari 4.000 buyer disebut telah mengonfirmasi kehadiran. Budi memperkirakan jumlah tersebut masih dapat bertambah menjelang pelaksanaan Trade Expo Indonesia.
Kenaikan harga minyak dunia terjadi di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Serangan kelompok Houthi ke Riyadh sebelumnya ikut mendorong kekhawatiran terhadap pasokan minyak dan membuat harga Brent sempat menembus US$104 per barel.
Bagi Indonesia, perubahan harga minyak menjadi perhatian karena sektor migas masih mencatat defisit dalam neraca perdagangan. Karena itu, peningkatan ekspor nonmigas menjadi salah satu cara untuk menjaga surplus perdagangan tetap bertahan.