JAKARTA, Cobisnis.com - Mochamad Asri, lead architect di NVIDIA, membagikan perjalanan hidup dan kariernya hingga bekerja di salah satu perusahaan teknologi dunia. Kisah tersebut disampaikan dalam video Gita Wirjawan yang membahas perjalanan pendidikan, teknologi, hingga pengembangan talenta Indonesia.
Asri lahir dan besar di Jakarta dari keluarga dengan latar belakang Sukabumi dan Banda Aceh. Saat berusia sekitar 12 tahun, ia kehilangan ayahnya yang sebelumnya bekerja sebagai akuntan, sementara ibunya kemudian menjadi ibu rumah tangga dan mencari penghasilan tambahan untuk membiayai sekolah anak anaknya.Kondisi ekonomi keluarga membuat Asri harus mencari jalan sendiri untuk melanjutkan pendidikan. Ia kemudian mengurangi waktu bermain bola dan mulai serius mencari beasiswa hingga menemukan program pemerintah Jepang yang membiayai pendidikan pelajar terpilih.
Asri akhirnya mendapat beasiswa tersebut dan melanjutkan pendidikan di Jepang. Ia mengambil bidang teknik komputer dan harus mempelajari bahasa Jepang terlebih dahulu sebelum menjalani perkuliahan yang juga menggunakan bahasa Jepang.
Perjalanan itu tidak mudah. Ia harus mempelajari kanji setiap hari sekaligus menghadapi materi seperti kalkulus dan fisika dalam bahasa Jepang, tetapi pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan akademiknya.
Dari Jepang, Asri kemudian melanjutkan perjalanan akademiknya ke Amerika Serikat. Ia tertarik dengan ekosistem teknologi di Silicon Valley dan mulai menyusun strategi sejak tahun terakhir kuliah untuk mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan di Amerika.
Salah satu langkah pentingnya adalah mengejar publikasi ilmiah. Ia mengerjakan riset mengenai optimasi mikroprosesor dan berhasil mendapatkan publikasi di konferensi Hot Chips, yang kemudian menjadi salah satu modal untuk melanjutkan pendidikan dan riset di Amerika Serikat.
Dalam pembahasan mengenai pendidikan dan teknologi, Asri juga menekankan pentingnya cara berpikir untuk menyelesaikan persoalan. “The core of engineering is problem solving. Engineering is not memorization,” yang berarti “Inti dari ilmu teknik adalah menyelesaikan masalah. Ilmu teknik bukan sekadar menghafal,” dikutip dari kanal Youtube Gita Wirjawan, Rabu (23/9/2026).
Menurut Asri, pendidikan perlu mendorong anak untuk memahami alasan di balik sebuah rumus atau persoalan, bukan hanya menghafalnya. Ia menilai kemampuan berpikir dari dasar dan menyelesaikan masalah menjadi bagian penting untuk melahirkan talenta teknologi.
Asri juga menyoroti pentingnya exposure bagi anak muda agar mereka mengetahui bahwa peluang di bidang teknologi memang terbuka. Ia menceritakan bagaimana seorang dosen tamu dari Amerika saat dirinya kuliah di Jepang menjadi salah satu sosok yang menginspirasinya untuk mengejar pendidikan dan pengalaman di Amerika Serikat.
Menurutnya, Indonesia juga perlu memperkuat talenta STEM, memperluas kesempatan belajar, serta membangun hubungan dengan talenta Indonesia yang bekerja di luar negeri. Ia melihat pengalaman tersebut dapat membuka perspektif baru dan membantu anak muda Indonesia memahami perkembangan teknologi global.
Di akhir pembahasan, Asri menyampaikan pesan khusus kepada generasi muda Indonesia. “Saya cuma ingin menyampaikan ke anak-anak muda Indonesia bahwa mereka ini the next future of Indonesia,” dikutip dari kanal Youtube Gita Wirjawan, Rabu (23/9/2026).
Ia kemudian mendorong anak muda untuk tidak hanya mengikuti perkembangan teknologi sebagai pengguna. Menurut Asri, generasi muda perlu membangun kemampuan intelektual, tertarik pada inovasi, dan berani mengeksplorasi bidang teknologi agar dapat membuka lebih banyak peluang untuk masa depan.