Mojtaba Khamenei Jadi Kandidat Pemimpin Baru Setelah Ayahnya Wafat

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 02 Mar 2026, 07:37 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Iran resmi mengonfirmasi kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei akibat operasi militer gabungan AS-Israel, menandai berakhirnya pemerintahannya selama 37 tahun. Kematian ini menempatkan Republik Islam dalam fase transisi politik yang paling tidak pasti dalam beberapa dekade.

Sorotan kini tertuju pada Majelis Pakar Iran, badan ulama yang secara konstitusional bertanggung jawab menunjuk Pemimpin Tertinggi berikutnya. Salah satu nama yang muncul adalah Mojtaba Khamenei, putra kedua tertua mendiang Khamenei, yang dikenal berpengaruh di balik layar dan memiliki hubungan kuat dengan Garda Revolusi Iran (IRGC).

Mojtaba pernah bertugas di angkatan bersenjata saat Perang Iran-Irak, dan disebut memiliki pengaruh sebagai penjaga gerbang ayahnya. Namun, langkahnya untuk menjadi Pemimpin Tertinggi penuh rintangan. Konstitusi Iran menuntut pengalaman politik formal, yang menurut beberapa lembaga seperti Middle East Institute, belum dimiliki Mojtaba.

Selain itu, tradisi ulama Iran menentang suksesi berbasis keluarga. Pada 1989, Khamenei terpilih mengalahkan putra Khomeini karena konvensi yang sama. Khamenei sendiri pada 2023 menyatakan bahwa pemerintahan turun-temurun tidak Islami, menunjukkan garis keras terhadap penunjukan keluarga.

Laporan New York Times mengungkapkan bahwa tahun lalu Khamenei telah menyiapkan tiga calon pengganti dari kalangan ulama senior, dan Mojtaba tidak termasuk di antaranya. Langkah Mojtaba untuk naik ke posisi tertinggi bisa memicu gesekan internal dalam elit penguasa dan menimbulkan reaksi publik.

Menurut anggota Majelis Pakar, Ayatollah Mahmoud Mohammadi Araghi, Khamenei sebelumnya menolak penyelidikan terkait kemungkinan kepemimpinan Mojtaba untuk mencegah kesan suksesi turun-temurun. Hal ini menegaskan bahwa ambisi keluarga Khamenei tidak otomatis berujung pada penunjukan Mojtaba.

Mojtaba saat ini merupakan ulama tingkat menengah, dan belum memiliki kredensial teologis setara yang biasanya diharapkan dari seorang Pemimpin Tertinggi. Pengangkatannya akan menjadi ujian bagi Majelis Pakar dan stabilitas politik Iran di tengah gejolak regional.

Meski banyak pihak menyoroti risiko politik, sejumlah analis menyebut hubungan Mojtaba dengan IRGC bisa memberinya pengaruh signifikan di belakang layar, terutama dalam menjaga loyalitas militer dan keamanan nasional.

Transisi ini menjadi perhatian internasional, mengingat posisi strategis Iran di Timur Tengah dan potensi dampak kebijakan luar negeri terhadap konflik regional, perdagangan energi, dan keamanan global.

Dengan ketiadaan Khamenei, jalan menuju Pemimpin Tertinggi baru masih penuh ketidakpastian, di mana Majelis Pakar harus menyeimbangkan tradisi agama, tekanan politik internal, dan kepentingan strategis negara.