JAKARTA, Cobisnis.com - Mantan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menyoroti ancaman penurunan status pasar modal Indonesia oleh MSCI. Ia menduga ada campur tangan Singapura di balik opsi perubahan status Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Lutfi menyinggung pengaruh dua institusi investasi Singapura, Temasek dan Government of Singapore Investment Corporation (GIC), terhadap MSCI. Menurut dia, kedua institusi tersebut memiliki pengaruh besar terhadap lembaga penyedia indeks pasar modal itu.
Lutfi juga mengaku mendapat informasi bahwa Rachel Goh dari GIC menekan MSCI agar menurunkan status pasar modal Indonesia. Ia menduga langkah tersebut bertujuan memicu kepanikan di pasar saham Indonesia.
Menurut Lutfi, kepanikan pasar berpotensi membuat harga saham turun sehingga investor asing dapat kembali membeli saham Indonesia dengan harga lebih murah. Namun, dugaan mengenai tekanan terhadap MSCI tersebut merupakan pernyataan Lutfi dan belum disertai bukti yang dipaparkan dalam keterangannya.
Lutfi menilai status Standalone Market diperuntukkan bagi negara yang menerapkan pembatasan arus modal atau capital control. Ia berpendapat kondisi tersebut tidak berlaku di Indonesia sehingga mempertanyakan alasan di balik ancaman penurunan status pasar modal nasional.
Ia juga menduga persoalan transparansi sejumlah emiten konglomerasi di Indonesia hanya menjadi alasan di balik ancaman tersebut. Menurut Lutfi, terdapat kepentingan investor asing untuk kembali masuk ke pasar saham Indonesia pada harga yang lebih rendah.
Lutfi menyebut dana asing yang sebelumnya keluar dari pasar Indonesia telah mencapai sekitar 80%. Meski demikian, menurut dia, keluarnya dana tersebut belum membuat harga saham turun sesuai harapan investor asing.
Ia menduga ancaman penurunan status pasar modal dapat mendorong kepanikan massal dan menekan indeks saham. Dalam skenario yang ia sampaikan, investor asing kemudian berpeluang membeli kembali aset-aset Indonesia dengan harga diskon.
Lutfi mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh sentimen yang melibatkan negara tetangga. Ia menilai persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan gejolak pasar saham, tetapi juga menyangkut kendali atas kekayaan nasional.
Ia mengajak masyarakat Indonesia untuk tetap kompak dalam menghadapi situasi tersebut. Meski demikian, dugaan keterlibatan institusi Singapura dan motif di balik ancaman MSCI perlu dibedakan dari fakta yang telah terkonfirmasi.