JAKARTA, Cobisnis.com – Anggapan bahwa nasi menjadi penyebab utama kenaikan berat badan masih banyak dipercaya masyarakat. Padahal, para ahli gizi menegaskan bahwa nasi bukan faktor tunggal yang membuat seseorang menjadi gemuk.
Nasi merupakan sumber karbohidrat utama yang berfungsi menyediakan energi bagi tubuh. Dalam 100 gram nasi putih matang, terkandung sekitar 175 kalori yang dibutuhkan untuk aktivitas harian, terutama bagi masyarakat dengan mobilitas tinggi.
Masalah muncul ketika konsumsi nasi tidak diimbangi dengan pengaturan porsi dan pola makan seimbang. Asupan kalori berlebih yang tidak dibakar melalui aktivitas fisik akan disimpan tubuh dalam bentuk lemak.
Ahli gizi menyebut, kenaikan berat badan lebih sering dipicu oleh kombinasi porsi besar, lauk tinggi lemak, serta kebiasaan kurang bergerak. Dalam konteks ini, nasi kerap dijadikan kambing hitam.
Secara metabolisme, tubuh membutuhkan karbohidrat untuk menjaga fungsi otak, otot, dan sistem saraf. Menghilangkan nasi sepenuhnya justru dapat menurunkan energi dan produktivitas, terutama bagi pekerja aktif.
Indeks glikemik nasi putih memang relatif tinggi, namun dampaknya bisa ditekan dengan mengombinasikannya bersama protein, serat, dan lemak sehat. Cara makan ini membantu menjaga gula darah tetap stabil.
Di sisi lain, tren diet ekstrem tanpa nasi masih marak di tengah tekanan sosial untuk tampil kurus. Kondisi ini berpotensi memicu gangguan pola makan dan masalah kesehatan jangka panjang.
Dalam konteks ekonomi, nasi juga menjadi pangan pokok yang terjangkau bagi mayoritas masyarakat Indonesia. Menghindarinya bukan solusi realistis, terutama di tengah tekanan biaya hidup.
Pemerintah dan tenaga kesehatan terus mendorong edukasi gizi seimbang, bukan pembatasan satu jenis makanan. Fokusnya adalah pengendalian porsi dan peningkatan aktivitas fisik.
Dengan pendekatan tersebut, nasi tetap bisa menjadi bagian dari pola makan sehat tanpa memicu kenaikan berat badan berlebih.