JAKARTA, Cobisnis.com - OpenAI akan mulai menyematkan watermark tak kasatmata pada teks yang dihasilkan ChatGPT dan Codex bagi pengguna di Uni Eropa dalam beberapa pekan mendatang.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya OpenAI memenuhi ketentuan transparansi dalam EU AI Act yang berlaku mulai 2 Agustus 2026.
Aturan tersebut mengharuskan konten yang dihasilkan atau dimanipulasi AI dapat ditandai dan dideteksi oleh sistem secara otomatis.
Berbeda dengan watermark pada gambar yang biasanya terlihat sebagai logo atau simbol, teknologi OpenAI tidak menghasilkan tanda yang dapat dilihat pembaca.
Watermark tersebut bekerja dengan mengubah pola statistik dalam pemilihan kata sehingga menghasilkan sinyal tertentu yang dapat dikenali oleh alat pendeteksi.
“Sistem ini memanfaatkan kunci rahasia untuk mengurutkan prediksi kata, sehingga alat pemindai khusus dapat mendeteksi jejak AI hanya dari susunan teks tersebut,” tulis pernyataan OpenAI yang dikutip dari berbagai sumber, Rabu (7/10/2026).
Teknologi tersebut diberi nama textGrain dan dikembangkan OpenAI bersama peneliti dari University of Pennsylvania serta Yale.
OpenAI mengatakan watermark tidak menambahkan karakter tersembunyi atau token khusus sehingga teks tetap dapat disalin dan ditempel seperti biasa.
Perusahaan juga menyatakan bahwa penerapan watermark tidak menunjukkan perubahan berarti pada kinerja model dalam pengujian yang dilakukan.
Namun, sistem tersebut belum dapat dianggap sebagai alat pendeteksi AI yang sempurna karena watermark dapat melemah ketika teks diedit.
“Dalam pengujian kami, mengganti 10 persen kata dengan sinonim mampu menurunkan tingkat deteksi kecerdasan buatan dari 92 persen menjadi 66 persen,” lanjut OpenAI.
Deteksi juga lebih sulit dilakukan pada teks pendek, jawaban matematika, dan teks yang telah diterjemahkan.
Karena keterbatasan tersebut, OpenAI untuk sementara membatasi akses terhadap alat pendeteksi watermark kepada peneliti dan organisasi ahli yang telah disetujui.
“Teks yang terlalu pendek, hasil terjemahan, atau jawaban soal matematika juga jauh lebih sulit untuk terdeteksi oleh sistem,” tulis OpenAI.
OpenAI turut menegaskan bahwa keberadaan atau ketiadaan watermark tidak dapat digunakan untuk memastikan siapa yang menulis sebuah teks.
“Tanda air ini hanya menunjukkan bahwa sistem kami sempat memproses bagian teks tersebut, tetapi tidak mengukur seberapa besar keterlibatan penyuntingan atau kreativitas manusia di dalamnya,” tuturnya.
Untuk saat ini, penerapan watermark pada teks ChatGPT dan Codex hanya ditujukan bagi pengguna di Uni Eropa, sementara pelanggan API OpenAI di seluruh dunia dapat memilih mengaktifkan fitur tersebut untuk model tertentu. Fitur API itu tetap dalam kondisi nonaktif secara default.
OpenAI juga belum menjadikan watermark teks sebagai fitur bawaan global pada tahap awal peluncuran.
Sementara itu, OpenAI berencana membuka teknologi textGrain sebagai teknologi sumber terbuka agar pihak lain dapat ikut mengembangkan dan meningkatkan sistem watermarking teks tersebut.