Pembelian Minyak Rusia Oleh Hungaria Dinilai Danai Perang Kremlin Dan Perkaya Jaringan Orban

Oleh Zahra Zahwa pada 17 Feb 2026, 16:33 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Hungaria tetap membeli minyak Rusia meski tersedia pasokan alternatif, dalam kebijakan yang dinilai ikut mendanai mesin perang Kremlin sekaligus memperkaya jaringan yayasan yang terkait dengan Perdana Menteri Viktor Orbán.

Laporan dari Center for the Study of Democracy (CSD) menyebut Budapest tidak menyalurkan penghematan dari pembelian minyak Rusia yang lebih murah kepada konsumen. Sebaliknya, keuntungan tersebut dinikmati perusahaan minyak terbesar Hungaria, MOL Group, yang sebagian sahamnya dikendalikan yayasan-yayasan terkait Orbán.

Analisis CSD menemukan harga bahan bakar domestik Hungaria pada 2025 rata-rata 18% lebih tinggi dibandingkan Republik Ceko, meski Hungaria membeli minyak Rusia yang lebih murah. Sebaliknya, Praha membeli minyak non-Rusia yang lebih mahal.

Temuan ini bertentangan dengan klaim Orbán bahwa melanjutkan pembelian minyak Rusia di tengah upaya Uni Eropa mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil Rusia akan membuat harga energi lebih murah bagi rakyat Hungaria. Sejak invasi penuh Rusia ke Ukraina pada 2022, laba operasional MOL melonjak 30%.

Menurut Direktur Program Energi dan Iklim CSD, Martin Vladimirov, ketergantungan pada minyak Rusia diskon “tidak menetes ke konsumen.” Ia menilai keuntungan berlebih tersebut secara tidak langsung mendanai jaringan kekuasaan yang dekat dengan pemerintah.

Ketergantungan Yang Diperdalam

Setelah Rusia melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraina hampir empat tahun lalu, negara-negara Uni Eropa bergerak mengurangi impor energi Rusia. UE memberi pengecualian sementara pada 2022 kepada Hungaria, Slovakia, dan Republik Ceko tiga negara yang sangat bergantung pada energi Rusia dengan syarat mengurangi ketergantungan secepat mungkin.

Republik Ceko kini telah berhenti membeli minyak Rusia, tetapi Hungaria dan Slovakia justru memperdalam ketergantungan. Pada 2024, Rusia menyumbang lebih dari 92% impor minyak mentah Hungaria, naik dari 61% sebelum invasi.

Hungaria menerima minyak Rusia melalui pipa Druzhba yang melintasi Ukraina, tetapi juga terhubung ke pipa Adria dari Kroasia yang memasok minyak non-Rusia dari Laut Adriatik. Peneliti CSD menyebut kapasitas pipa Adria cukup untuk memenuhi kebutuhan Hungaria dan Slovakia, dengan biaya transit 1,7 kali lebih rendah dibanding Druzhba yang melewati zona perang aktif.

Meski minyak Rusia rata-rata 20% lebih murah dibanding alternatif non-Rusia (Januari 2024–Agustus 2025), diskon tersebut tidak tercermin dalam harga eceran. Harga bahan bakar sebelum pajak di Hungaria tetap 18% lebih mahal dibanding Republik Ceko dan 10% lebih mahal untuk solar.

Laporan tersebut juga menyoroti tiga yayasan yang menguasai 30,49% saham MOL, termasuk Mathias Corvinus Collegium, lembaga pendidikan besar yang memiliki kedekatan dengan pemerintah Orbán.

Dimensi Politik Internasional

Ketika Amerika Serikat menjatuhkan sanksi pada dua raksasa minyak Rusia, Orbán meminta pengecualian selama satu tahun kepada Presiden Donald Trump. Trump mengabulkan permintaan itu dengan alasan Hungaria sebagai negara tanpa laut menghadapi kesulitan logistik.

Namun, laporan CSD menilai pembelian minyak Rusia oleh Hungaria lebih merupakan pilihan politik ketimbang kebutuhan komersial atau teknis.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bahkan menyebut pengecualian diberikan sebagian karena hubungan erat antara Trump dan Orbán, seraya menyebut adanya “era keemasan” hubungan kedua negara.

Laporan ini muncul menjelang pemilu parlemen Hungaria pada April, di mana Orbán akan menghadapi penantang kuat, Péter Magyar. Selama ini, Orbán berkampanye dengan klaim keberhasilannya menjaga biaya energi tetap rendah klaim yang kini dipertanyakan.

CSD merekomendasikan Uni Eropa segera mengesahkan aturan yang diusulkan Komisi Eropa untuk melarang impor minyak mentah Rusia oleh Hungaria dan Slovakia. Menurut para peneliti, tahap akhir pemutusan ketergantungan energi Eropa dari Rusia sudah dekat, tinggal menunggu kemauan politik untuk menutup celah yang masih membiayai perang Kremlin.