Pemerintah Bayar Rp331 Triliun Subsidi

Oleh Desti Dwi Natasya pada 19 Sep 2026, 11:58 WIB

bahan bakar minyak (BBM)

JAKARTA, Cobisnis.com – Pemerintah telah membayarkan subsidi dan kompensasi sebesar Rp331,4 triliun hingga Agustus 2026 melalui APBN untuk mendukung penyediaan barang dan layanan yang harganya mendapat dukungan pemerintah. 

Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan pembayaran tersebut dilakukan secara bulanan kepada PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero) untuk menjaga aktivitas ekonomi di tengah dinamika global. 

“Di tengah dinamika global, pertumbuhan kita terus terjaga. Permintaan domestik cukup kuat, stabilitas ekonomi kita jaga, dan sinergi kebijakan makro, yaitu kebijakan fiskal dan kebijakan moneter, kita jaga dengan baik,” kata Suahasil dalam konferensi pers APBN KiTa, Jumat (18/9/2026). 

Nilai pembayaran tersebut meningkat sekitar Rp100 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, ketika pembayaran subsidi dan kompensasi kepada Pertamina serta PLN tercatat sekitar Rp218 triliun. 

“Jadi, tahun ini sampai dengan Agustus, yang sudah dibayarkan Rp331 triliun atau sekitar Rp100 triliun lebih tinggi dibandingkan tahun lalu,” ujar Suahasil. 

Menurut Suahasil, peningkatan pembayaran tersebut sejalan dengan naiknya penggunaan sejumlah barang dan layanan yang mendapatkan dukungan harga dari pemerintah. 

Volume konsumsi BBM meningkat 8,8 persen, LPG naik 2,6 persen, sedangkan jumlah pelanggan listrik bersubsidi bertambah 2,1 persen hingga Agustus 2026. 

Selain itu, volume pupuk yang disalurkan meningkat 23,4 persen dan jumlah debitur Kredit Usaha Rakyat (KUR) tumbuh 5,9 persen pada periode yang sama. 

“Barang-barang yang mendapatkan subsidi harga mengalami peningkatan penggunaan oleh masyarakat,” ucap Suahasil. 

Suahasil menyebut peningkatan penggunaan barang dan layanan bersubsidi menjadi salah satu indikator aktivitas ekonomi masyarakat tetap bergerak, sementara pemerintah tetap berupaya menjaga kredibilitas APBN. 

“APBN harus tetap kredibel. Pendapatan harus kita perkuat, belanja harus semakin efektif dan produktif, tetapi harus tetap efisien. Defisit juga kita kelola secara sehat dan terkendali,” tegas Suahasil.