Penampilan Penuh Sukacita Buktikan Tak Ada yang Seperti Alysa Liu di Dunia Seluncur Indah

Oleh Zahra Zahwa pada 21 Feb 2026, 08:21 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Setelah menyelesaikan free skate-nya dengan arena bergemuruh di sekelilingnya, Alysa Liu hanya mengibaskan ekor kuda rambutnya, menancapkan ujung sepatu ke es, lalu membungkuk memberi hormat. Sebelum itu, ia bahkan sempat mengangkat kedua tangannya dan mengibaskannya dramatis, seolah berkata, “Sudah selesai. Saatnya karaoke.”

Dalam olahraga yang sarat tekanan seperti seluncur indah, momen santai seperti itu hampir tak pernah terlihat. Atlet berdiri sendirian di atas es, tanpa rekan setim untuk berbagi beban. Sorotan lampu terang dan ribuan pasang mata mengikuti setiap putaran dan lompatan. Sedikit kesalahan saja bisa berarti perbedaan antara kejayaan abadi dan kekecewaan mendalam. Namun Liu berbeda.

Saat ia menuntaskan putaran terakhirnya, gaun emasnya berkilau selaras dengan gerakannya. Perempuan Amerika pertama dalam 24 tahun yang merebut emas Olimpiade cabang seluncur indah itu tampak bahagia. Bukan lega yang terpaksa. Bukan tangis haru. Hanya senyum jahil dan lambaian tangan ke penonton. Ketika pesaing terakhir, Ami Nakai, menunggu skor yang menentukan apakah Liu meraih perak atau emas, Liu hanya tersenyum ke kamera dan mengobrol santai dengan Amber Glenn. Saat skor memastikan emas untuknya, ia langsung memeluk Nakai dengan hangat.

Di podium, ia bahkan tampak lebih sibuk memastikan boneka maskot terselip rapi bersama medalinya ketimbang merenungi besarnya pencapaian itu. Ketika ditanya bagaimana ia menghadapi tekanan Olimpiade, jawabannya lugas, “Kalian harus jelaskan dulu apa itu tekanan Olimpiade. Siapa yang memberi tekanan? Tekanan apa?”

Bangkit Dengan Sukacita

Di situlah letak rahasia Alysa Liu. Pernah disebut terlalu berbakat terlalu cepat, Liu sempat “dikunyah” ekspektasi besar dunia olahraga. Ia juara nasional Amerika Serikat pada usia 13 tahun. Pada usia 16, ia sudah menjadi Olympian dan meraih medali Kejuaraan Dunia 2022 yang pertama bagi Amerika sejak 2016.

Namun di usia 16 tahun pula, ia memutuskan pensiun. Keputusan itu terasa mengejutkan, bahkan absurd. Siapa yang berhenti di usia 16? Tetapi Liu melakukannya. Ia meninggalkan dunia yang membesarkannya sejak usia lima tahun, dunia yang membentuk identitasnya sejak era kejayaan Michelle Kwan.

Ia lalu menjalani hidup seperti remaja biasa: karaoke, bermain gim video, kuliah, mengeksplorasi fesyen, bahkan mengekspresikan diri lewat piercing unik. Jeda itu memberinya ruang untuk memahami siapa dirinya bukan sekadar sebagai atlet, tetapi sebagai pribadi. Ketika akhirnya ia memilih kembali ke es, itu adalah pilihannya sendiri. Bukan dorongan ambisi orang lain. Bukan tekanan ekspektasi publik.

Emas Yang Datang Secara Alami

Penampilannya kali ini, diiringi lagu “MacArthur Park” milik Donna Summer, begitu memukau hingga penonton nyaris lupa ia sedang meluncur di atas sepatu es. Lompatan-lompatannya seperti tanda seru dalam melodi tegas namun menyatu. Karena finis ketiga di program pendek, Liu tampil ketiga dari terakhir di free skate. Dua pesaing di depannya, termasuk Kaori Sakamoto, memiliki keunggulan poin yang bisa saja menggagalkannya. Ketegangan menyelimuti arena kecuali bagi Liu.

Ketika skor akhir memastikan emas di lehernya, ia menerimanya dengan tenang. Berpose menggigit medali, melambaikan bendera Amerika, tersenyum kepada penonton ia menjalani semuanya dengan santai. Namun pernyataannya setelah itu yang paling mencerminkan siapa dirinya kini.

“Saya tidak butuh medali,” katanya. “Kalau saya jatuh di setiap lompatan pun, saya tetap akan berada di sana mengenakan gaun ini. Jadi apa pun yang terjadi, saya tetap baik-baik saja.” Dalam dunia seluncur indah yang penuh tekanan, Alysa Liu membuktikan satu hal: kebahagiaan bisa menjadi kekuatan terbesar.