Pengamat: Party ID Rendah karena Partai Aktif Saat Pemilu

Oleh Hidayat Taufik pada 09 Sep 2026, 16:41 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com — Keterikatan masyarakat terhadap partai politik atau party ID di Indonesia dinilai masih rendah. Kondisi tersebut bahkan cenderung tidak banyak berubah dalam beberapa tahun terakhir.

Pengamat politik sekaligus dosen FISIP UIN Jakarta, Adi Prasetyo, mengatakan tingkat party ID masyarakat Indonesia relatif konsisten. Angkanya umumnya masih berada di kisaran belasan persen dan cenderung meningkat ketika pemilu semakin dekat.

"Identitas kepartaian itu memang cukup konsisten. Paling tinggi di angka 20 persen. Itu biasanya menjelang pemilu," ujar Adi dari Channel youtube podcast Real Politik, (9/9/26).

Menurut Adi, peningkatan party ID menjelang pemilu berkaitan dengan semakin aktifnya partai politik melakukan berbagai kegiatan. Aktivitas tersebut mulai dari pemasangan alat peraga hingga kegiatan yang melibatkan kader dan elite partai.

Namun, setelah momentum pemilu berakhir, aktivitas partai dinilai kembali berkurang. Kondisi ini membuat masyarakat tidak memiliki hubungan yang kuat dengan partai politik tertentu.

"Partai politik itu dianggap bekerja hanya setiap lima tahun sekali dan menjelang pemilu," katanya.

Adi menjelaskan, persoalan tersebut juga berkaitan dengan cara masyarakat memandang partai politik. Sebagian publik masih melihat partai sebagai kendaraan untuk memperoleh kekuasaan.

Orientasinya terlihat dari perebutan berbagai jabatan politik, mulai dari anggota legislatif hingga kepala daerah dan presiden. Sementara fungsi partai sebagai institusi yang bekerja untuk masyarakat belum dirasakan secara konsisten.

Padahal, menurut Adi, partai politik memiliki peran strategis dalam menentukan arah kehidupan bernegara. Berbagai kebijakan publik, termasuk produk hukum, ekonomi, serta sosial dan budaya, turut dipengaruhi oleh keputusan politik.

Karena itu, pembenahan partai politik dinilai menjadi salah satu kunci untuk memperbaiki kualitas kehidupan politik nasional.

"Kalau mau benar negara kita, benerin partai politiknya. Kalau mau hebat negara ini, benerin partai politiknya," ujar Adi.

Ideologi Partai Politik Dinilai Semakin Kabur

Selain rendahnya party ID, Adi juga menyoroti persoalan lain, yakni lemahnya perbedaan ideologi antarpartai politik di Indonesia.

Menurut dia, masyarakat semakin sulit menemukan karakter yang benar-benar membedakan satu partai dengan partai lainnya. Akibatnya, pilihan politik masyarakat tidak selalu didasarkan pada ikatan ideologis.

Kondisi tersebut berbeda dengan sejumlah negara yang memiliki partai dengan identitas politik lebih spesifik. Ada partai yang fokus memperjuangkan kepentingan buruh dan ada pula partai yang mengutamakan isu lingkungan.

Sementara di Indonesia, identitas politik partai umumnya berada pada spektrum nasionalis dan Islam. Namun, batas antara kedua identitas tersebut dinilai semakin tidak tegas dalam praktik politik.

"Di kita yang disebut dengan ideologi itu adalah Islam dan nasionalis. Dan itu bercampur, kedua-duanya nasionalis religius," jelasnya.

Adi menilai minimnya diferensiasi tersebut membuat masyarakat tidak memiliki alasan kuat untuk mempertahankan keterikatan dengan satu partai.

Pemilih pun lebih mudah berpindah pilihan karena tidak menemukan perbedaan ideologis maupun program yang cukup kuat di antara partai-partai politik.

Karena itu, partai politik dinilai perlu hadir secara konsisten di tengah masyarakat, bukan hanya ketika membutuhkan suara dalam pemilu.

Partai juga perlu menjalankan fungsi pendidikan politik, memperjuangkan kepentingan publik, serta mempersiapkan calon-calon pemimpin secara berkelanjutan.

Dengan cara tersebut, partai politik diharapkan tidak sekadar dipandang sebagai kendaraan untuk meraih kekuasaan, tetapi juga sebagai institusi yang memiliki peran penting dalam membangun dan menentukan arah masa depan negara.